Tamara menghadapi kotak abu ibunya yang tiga hari ditaruh di rumah; pengelola mengancam menyingkirkannya jika makam tak dibeli. Ia memohon pada ayah, tapi ayah menolak karena dana dialokasikan untuk menikahi Tante Melda. Masuk kabar bahwa Tuan Gio bersedia memberi mahar 500 juta dan sedang menunggu di KUA, sementara tekanan keluarga menyatakan bisnis harus disertai keluarga segera. Tamara berjanji akan bayar sore untuk makam. Di akhir episode, seseorang tiba-tiba menyatakan "Aku menikahimu" dan pasangan itu bergegas mendaftar di KUA sebagai solusi cepat — namun implikasi terhadap ayah, Tante Melda, dan makam ibu tetap belum terselesaikan.
Di episode ini Sisil yang membutuhkan uang untuk ibu menerima tawaran Theo: mereka setuju menikah kontrak dengan mahar 500 juta dan janji cerai setelah dua tahun. Theo segera menyerahkan uang, meminta nomor, menyarankan panggilan 'istri nikah kilat' dan 'suami nikah kilat', serta membelikan kursi roda saat melihat kaki Sisil sakit. Sisil berjanji merawat nenek, mengganti nama menjadi Sisil Lingga, membantu kakek merebut kembali Browali Group, lalu akan pergi belajar teknologi ke luar negeri selama dua tahun. Kontrak dua tahun dan kepergiannya menutup episode dengan ketidakpastian nasib keluarga dan perjanjian mereka.
Seorang pria yang menikah kilat dua tahun lalu berencana menuntaskan perjanjian perceraian; mereka menjadwalkan bertemu besok jam 8 di catatan sipil. Namun kakek mendadak jatuh sakit dan dibawa ke RS, sehingga pria itu pulang. Di rumah, kakek menegur karena ia kembali tanpa membawa cicit dan menuntut agar segera membina hubungan dengan cucu menantuku supaya kakek bisa menggendong cicit. Saat pria mengatakan mereka belum saling kenal, kakek mengancam berhenti berobat jika ia tetap mau cerai. Terpaksa pria itu membatalkan urusan cerai karena 'urusan mendadak', meninggalkan keputusan pernikahan yang belum terselesaikan.
Di awal episode sekelompok keluarga berkumpul untuk mengurus cerai, namun calon penggugat mengirim pesan: 'Maaf ada urusan mendadak, jadi nggak bisa urus cerai,' yang persis diulang oleh orang lain sehingga suasana bingung. Seorang kakek marah karena cucunya dua tahun lalu menikah kilat lalu kembali meminta cerai, menghancurkan harapannya mendapat cicit. Seorang wanita mengaku mengalami hal serupa — nikah kilat dua tahun lalu, hari ini akan mengurus perceraian, mengeluh suaminya tinggi 180 cm tapi tak punya empati. Episode berakhir dengan pertanyaan tajam, 'Apa anak ini datang mengganggu lagi?', menandai konfrontasi yang belum terjawab.
Episode dimulai saat Tuan Chandra menawarkan kue ketan, namun Kakek menolak dan merindukan kue buatan cucunya, Nona Sisil; Sisil berjanji mengantarkan besok lalu kembali ke kantor untuk menjemput Outside CEO. Di kantor, pegawai bergosip bahwa Outside CEO sangat tampan, fokus riset, dan belum punya perempuan, sehingga muncul persaingan: seorang kolega mengaku paling pantas jadi istri CEO dan menyebut Sisil Lingga ancaman yang harus disingkirkan. Ketegangan meningkat ketika rumor dan rencana intrik terbentuk, lalu CEO tiba—meninggalkan konflik antar wanita yang belum terselesaikan.
Di kantor, Sisi Lingga berusaha menunjukkan keterampilannya, namun suasana pecah ketika Brandon—yang disebut 'anak haram' Keluarga Browali—diangkat jadi CEO Grup Browali. Sisi awalnya mengira tunangannya akan jadi atasannya dan berniat segera menikah, tapi terungkap CEO baru bertunangan dengan Bu Mona (Mona Wijaya) yang juga bekerja di perusahaannya. Saat diminta menyebut nama, ia mengaku Sisi Lingga; setelah jatuh, Pak Theo menolongnya dan menegaskan panggilan resmi. Brandon disebut berganti marga mengikuti ibunya, dan Pak Presdir tak membantah pertunangan itu. Sisi sekarang takut dipecat demi calon istri CEO—nasibnya menggantung.
Sisil terpeleset dan berpura-pura keseleo di kantor, memaksa rekan memanggil Pak Theo dan membuatnya kaget. Rekan-rekan menuduh Sisil sengaja menjebak untuk mendapat perhatian; mereka membantunya berdiri sambil mengomel. Di departemen seluler hanya ada dua kuota tetapi kini ada tiga anak magang, dan Sisil dinilai berperforma paling buruk. Informasi itu sampai ke Pak Theo yang disebut-sebut akan memecatnya sekarang. Sisil meminta maaf, terlihat panik karena bergabung dengan CW Teknologi adalah impiannya, dan episode berakhir dengan ancaman pemecatan yang segera menentukan nasib mimpinya.
Sisil tiba di CW Teknologi dan langsung dimarahi karena terlihat gugup dan dianggap tak pantas; ia disuruh membereskan barang dan pergi. Atasan mengarahkan bahwa bagian sekretariat masih butuh orang, lalu Sisil meminta pada Pak Theo untuk dipindah ke sana karena itu impiannya. Pak Theo menyetujui pemindahan; Sisil berjanji akan belajar sungguh-sungguh dan mengandalkan hubungan akrab mereka. Seorang rekan memindahkan pekerjaannya ke samping meja Sisil yang membuatnya curiga 'untuk mengejarku lagi'. Episode ditutup dengan Sisil terkejut melihat sesuatu, bergumam, "Itu aku?"
Di episode ini, Sisil tiba-tiba dipromosikan menjadi sekretaris oleh Pak Theo meski baru saja melakukan kesalahan, sehingga rekan kerja mempertanyakan motif promosi dan menuduhnya dijadikan alat untuk menjengkelkan Bu Mona. Pak Theo membela keputusan dengan memuji kemampuan adaptasi dan responsif Sisil, lalu memperkenalkan diri sebagai CEO dan menegaskan fokus kerja. Sisil senang namun mengaku masih ada salah paham dengan Pak Theo karena dia masih marah. Seorang wanita di kantor menyatakan sudah bertunangan sejak kecil dengan Pak Theo. Promosi membawa peluang, tapi ketegangan yang belum terselesaikan dan kunjungan ke kakek Theo yang sakit menjadi pemicu konflik berikutnya.
Di rumah sakit, Sisil (dipanggil Bu Mona) menjenguk kakeknya saat seorang wanita yang mengaku istri sah Pak Theo menuduhnya mendekati kakek demi simpati Theo. Wanita itu menghina Sisil, memeriksa registrasi yang hanya mencantumkan neneknya, meragukan keterkaitan mereka, dan mengancam memanggil satpam serta memecatnya. Sisil bersikeras itu kebetulan karena kakek Theo juga dirawat di rumah sakit dan tak mengerti tuduhan. Seorang rekan lalu memberi tahu Theo bahwa Sisil datang untuk 'menggoda' kakek dan mengabaikan pekerjaan. Theo tiba; tuduhan, data pendaftaran, dan ancaman pemecatan menggantung, sehingga reaksi Theo menjadi penentu nasib Sisil.