Di istana, Permaisuri mengecam seorang wanita yang tidak bersujud; wanita itu membela diri sebagai istri sah sementara orang lain menuduhnya selir. Permaisuri memerintahkan pelayan dan kasim menamparnya 20 kali sebagai hukuman, sambil memperingatkan bahwa budak yang melawan akan dihukum sampai ke keluarganya. Hitungan tamparan terdengar (sepuluh, tiga belas, tujuh belas, dua puluh) dan hinaan serta ancaman kekerasan terus dilontarkan. Permaisuri menuntut lebih jika perlu, lalu memanggil Lira dan mengancam akan membunuhnya secara mengenaskan, meninggalkan nasib Lira yang sangat terancam dan belum jelas.