Sunira dituntut untuk memasak tepat waktu oleh Pak Yandi, suaminya, yang mulai skeptis terhadap alasan sakitnya meski wajah Sunira tampak pucat karena anemia. Saat Sunira berusaha membela diri dan menegaskan kondisinya, Pak Yandi justru menuduhnya malas dan hanya sok kaya. Ketegangan meningkat saat Sunira tetap bersikeras ingin memasak, namun akhirnya disarankan untuk istirahat. Pak Yandi memerintahkan memanggil para pembantu, menunjukkan kesannya yang mulai meremehkan Sunira, sementara Sunira bertekad untuk membuktikan dirinya kepada suaminya, meninggalkan pertanyaan terbuka tentang bagaimana dia akan menghadapi perlakuan ini selanjutnya.