Di pesta penyambutan Pak Rino, seorang pengemis diusir dan dipukuli oleh tamu sampai seorang ibu membela anaknya, memicu cekcok terbuka. Pengumuman tiba bahwa Jenderal wanita Sena Luis pulang dengan kemenangan dan banyak bangsawan ingin mengundangnya ke jamuan Keluarga Jani. Jenderal setuju hadir namun ingin menyamar; ia meminta pakaian biasa dan surat jalan. Pengemis mendesak masuk dengan mengaku sahabat Bu Rena, lalu diterima ketika Bu Rena menyapanya. Suasana tegang berlanjut ketika seseorang memanggil, "Kak, apa yang terjadi?", menandai gangguan tak terselesaikan menuju jamuan.
Seseorang pulang ke kampung dan langsung dicap pengemis oleh warga dan pengawal yang diperintahkan membawa orang itu pergi. Seorang saudara yang datang terlambat meminta maaf dan berusaha menjelaskan, sementara perempuan bernama Rena sudah menjadi pengusaha terkenal di Doga. Bu Rena tak terima dan mengusir, menuntut agar pengemis itu pergi. Kakak yang lain, Rino, membela dengan tegas: 'Dia kakakku, bukan pengemis' dan mengingatkan bahwa ia sudah memberi tahu lewat surat. Ketegangan meningkat saat warga tetap meremehkan kedatangan itu; apakah keluarga akan menerima mereka masih belum jelas.
Seorang wanita, kakak yang dianggap pengemis, datang ke rumah Keluarga Jani untuk membela adiknya. Anggota keluarga menolak dan merendahkannya, memberi uang lalu mengusirnya sambil mencela statusnya. Kakak menegaskan adiknya yang selama ini membiayai kuliah dan kebutuhan keluarga. Seorang pria menyombongkan koneksi dengan putri ajudan Kota Doga dan mengancam akan menjadikan adik itu sebagai selir ketika kesempatan datang. Rino, yang diminta menjaga kakak, mendapati kakak sudah pergi dan tak bisa mengejarnya; ancaman terhadap adik serta nasib kakak tetap menggantung.
Di awal episode, sekelompok pria mengusir seorang wanita yang ternyata menunjukkan keterampilan menembak dan diungkap sebagai Jenderal wanita Doga, membuat pengusir terkejut. Berganti ke rumah, keluarga panik karena belum ada kabar dari Pak Eddy dan upaya mengundangnya gagal; saudara perempuan mengaku kuliah di luar negeri demi tugas untuk Pak Eddy. Konflik keluarga muncul saat terbongkar Rino sering absen sejak pernikahan mereka, lalu disarankan 'bercerai saja'. Pemicu berubah ketika terungkap Pak Eddy adalah panglima Kota Doga dan 'kau ini adikku'—akhirnya salah satu saudara bertekad memanggil Eddy sekarang, menandai langkah yang menentukan.
Sena memaksa orang mengantar hadiah dan menyampaikan pada Pak Eddy bahwa dia lulusan luar negeri agar sang panglima mau menemui dirinya, meski kediaman komandan dijaga ketat. Rekannya menghina dan melarangnya membuat masalah; kakaknya mendesak agar berhenti, tetapi Sena tetap mengirim utusan. Warga membicarakan legenda jenderal wanita yang menyatukan Kota Doga dan memiliki koin emas murni yang melambangkan kekuasaannya — katanya siapa pun yang membawa koin bisa memaksa kedatangan jenderal, bahkan Pak Eddy. Episode ditutup saat seseorang melihat sesuatu dan bertanya, 'Ada apa? Mungkinkah...'
Episode dimulai ketika narator melihat kakaknya memegang koin, memicu gosip bahwa kakaknya — disebut sebagai jenderal wanita — tak pantas dan bahkan dikatai pengemis oleh warga. Beberapa meremehkan, sementara Rino dan orang lain mempertanyakan bagaimana ia bisa menjadi jenderal. Seorang loper koran datang kepada Pak Eddy membawa koin dan pesan bahwa jenderal wanita menunggu di Kediaman Jani; Pak Eddy langsung memerintahkan menyiapkan mobil. Di gerbang Kediaman Jani pelayan mengejek dan mencoba mengusirnya; kakak itu berdiri di ambang jamuan, menghadapi hinaan dan harus memutuskan apakah ia akan masuk.
Begitu kabar bahwa Pak Eddy akan hadir di jamuan tersebar, Rena bersemangat dan ingin segera memberi tahu ibu serta mencari kakaknya. Di lokasi jamuan, seorang pria mengklaim hak hadir tetapi dituduh sebagai pengemis oleh tamu; mereka meremehkan dan mengusirnya. Pengawal memaksa dia membawa hadiah untuk Luky dan 'memakai ini' agar diizinkan masuk, bahkan mencoba memasang moncong padanya. Pria itu menolak dan bersikeras, "Aku datang menghadiri jamuan." Saat penghinaan memuncak, seseorang menyerukan 'Hentikan.' Konfrontasi pun tertahan, sementara keputusan berikutnya tentang penerimaan pria itu dan efek kehadiran Pak Eddy tetap menggantung.
Di sebuah pertemuan, seorang adik membela kakaknya ketika beberapa orang mengejek penampilan dan status kakak itu. Para tamu terkejut mengetahui perempuan compang-camping itu memang kakaknya. Adik menjelaskan kakak membesarkannya dengan susah payah dan mencari nafkah secara jujur, lalu menegur mereka yang tak pernah menghasilkan apa-apa. Tawaran datang: seseorang berjanji membuatkan pakaian dan membeli perhiasan agar kakak tak kalah. Kakak menyatakan tak peduli pada penampilan dan menyatakan keluarga yang bergantung padanya tak layak mendapat perhatian, lalu menolak dihina. Episode berakhir dengan keputusan menerima atau menolak bantuan yang masih menggantung.
Di perjamuan Keluarga Jani, kakak yang dibesarkan oleh narator datang tetapi dipermalukan karena dianggap "pengemis"; tuan rumah menuntut setiap pengunjung membawa hadiah dan mengejek kurangnya tata krama kakak. Rino dan Rena diminta membantu menertibkan suasana saat penghinaan bergulir menjadi tekanan nyata: hadiah wajib. Narator menolak hinaan dan berusaha menutupinya dengan berkata, "Biar kubayar uang ini," namun jumlah yang diminta mengejutkan—lima puluh juta. Episode berujung pada tekanan finansial dan aib publik, meninggalkan keluarga dan kakak menghadapi keputusan sulit tentang membayar atau menerima cemoohan lebih lanjut.
Di jamuan keluarga, Keluarga Jani menuntut lima puluh juta dan berusaha mengalihkan uang Rena menjadi milik Keluarga Jani sebelum putri ajudan Pak Eddy menikah; kabar bahkan menyebut perempuan itu hamil. Tiba‑tiba muncul kakak Rena, seorang pengemis, yang ingin menghadiri acara, lalu keluarga memasang syarat: jika Rena membawa kakaknya, Rena harus menyerahkan uang dan akta kepemilikan toko. Ibu khawatir, Rena membela kakaknya dan menolak memberikan toko kepada Keluarga Jani — ia mengatakan akan memberi hartanya pada kakaknya tapi tidak menyerahkan toko. Konflik soal akta dan kepemilikan masih menggantung.