Wiko akhirnya membuka Mata Ilahi, dan gurunya mengumumkan dia murid terhebat Sekte Haci. Guru memberikan liontin dewa-iblis dan menyuruh Wiko turun gunung untuk mencari istrinya: seorang gadis dari Keluarga Dewa Perang Lika yang lahir 18 tahun lalu dengan aura iblis, yang guru jodohkan untuk mengusir aura itu. Guru menjelaskan kedua liontin harus disatukan agar mereka bisa berlatih sampai tingkat suci dan membentuk tubuh suci. Wiko terkejut tapi bersemangat, berangkat meninggalkan biara meski ditegah—nasib pencarian liontin dan pertemuan dengan gadis itu menggantung.
Wiko dipaksa turun gunung setelah para kakak seniornya, Kak Dira, Kak Emi, Kak Sera, Kak Sasa, Kak Wila, menuntut alasan mengapa Guru memilihkan Wiko untuk calon istri lain. Mereka mengklaim Wiko punya tubuh iblis yang sulit dikendalikan, sementara putri Keluarga Lika disebut satu-satunya yang cocok. Guru menenangkan mereka, lalu memberi identitas baru untuk para kakak agar berbaur di dunia fana, dengan tugas melindungi adik seperguruan dari calon istri yang dianggap berbahaya. Wiko diberi peringatan tentang takdirnya dan harus menahan diri. Episode berakhir saat Wiko tiba di kota, bingung mencari istrinya; nasib pengendalian dirinya dan perlindungan adik masih tergantung.
Seorang pria tertangkap menatap seorang perempuan; ia diejek soal celana dalam bergambar Mickey Mouse dan diancam akan dicungkil matanya. Perempuan ketakutan mengingatkan bahwa kakaknya bisa membunuh. Orang lain membela pria itu, menyebutnya terhormat dan menyangkal tuduhan penguntit. Perdebatan singkat pecah antara yang membela dan yang curiga. Ketegangan naik saat mereka menuntut penjelasan dan mengeluarkan ultimatum jika pria tidak memberi klarifikasi. Pria tetap bungkam, sementara seorang saksi mencatat bibirnya yang tampak lembut, meninggalkan konflik pribadi dan tuntutan penjelasan yang belum terjawab.
Seorang pria dan seorang wanita terlibat setelah pria itu 'tidak sengaja' menciumnya saat menolongnya dari pot yang hampir menimpa. Wanita marah, memaki dan mengancam 'kubunuh kau', menuduhnya berbuat mesum; dia menolak permintaan maaf kecuali hukuman ekstrem. Pria itu mengaku terjebak oleh bibirnya yang 'lembut dan harum' dan meminta maaf sambil menghindari perkelahian. Adegan memanas dengan ejekan singkat dari sekitar, lalu wanita memerintahkan pria berhenti mengejarnya, pulang, dan ganti baju. Episode berakhir dengan teriakan 'Kau!' dan ketegangan mereka masih belum terselesaikan.
Seorang wanita dikejar dan diancam oleh kelompok yang ingin mencemari atau merebut liontin warisannya; mereka menghina dan mengancam akan membunuhnya. Seorang pria tiba-tiba mengklaim ia suaminya dan berusaha melindungi wanita itu, memerintahkan pengejar diikuti dan menahan serangan. Seseorang memanggil Liam untuk membunuhnya, sementara Briel diminta mengantar wanita ke vila untuk ganti baju. Konfrontasi berubah jadi perkelahian terlatih, bahkan ada ancaman tembakan dan perintah berlutut, meninggalkan nasib liontin dan keselamatan wanita tergantung pada langkah berikutnya. Mereka mengepung, memaksa keputusan cepat yang belum terlihat hasilnya.
Episode dibuka dengan konfrontasi setelah seorang pria tiba-tiba mengklaim, "kau istrinya", memancing kemarahan kelompok yang berencana menghukumnya. Mereka mengancam membakar pria itu, tetapi beberapa terkejut melihat kemampuannya—karena kopi yang tumpah mereka menahan diri; tanpa itu mereka mengaku akan pakai jurus penghancur untuk menghabiskannya. Seorang gadis meminta Master Pembantai menerimanya jadi murid, namun sang guru menolak: "hatimu kurang kejam." Episode ditutup saat beberapa orang pergi mandi dan Briel membantu seorang wanita, sementara ancaman pria asing dan penolakan guru tetap menggantung.
Episode dibuka saat Briel sedang mandi sementara kakaknya menggosok punggungnya dan menasihatinya agar tidak bucin kepada pria. Percakapan beralih ke ingatan Briel tentang seseorang yang menyiramnya kopi; ia marah, mengancam balas, dan bertanya apakah Liam sudah menangkap pelaku. Untuk mencari jejak, mereka menggunakan Hidung Ilahi dan Mata Ilahi pada aroma di tubuh Briel. Pencarian membawa mereka ke lokasi di mana mereka menemukan dua pria sedang mandi. Penemuan itu mengarahkan kecurigaan kepada keduanya, tetapi identitas pelaku dan tindakan berikutnya masih belum terungkap.
Episode dimulai dengan Bella yang mandi sendirian saat sekelompok pria mengintai; mereka melihat seorang pria menyiramkan kopi kepadanya dan menganggap ini kesempatan. Seseorang menyerahkan 'obat perangsang' kepada pemimpin mereka agar Bella pingsan sehingga 'malam panas' tak terlupakan bisa dilakukan. Para pengikut berbisik tentang trik tingkat tinggi dan murid Master Pembantai, sementara pemimpin, pewaris Geng Telu, menegaskan bahwa meski Bella telah mengalahkan ribuan pria, dia tak bisa menghindar. Saat mereka bersiap melancarkan rencana itu, nasib Bella tetap menggantung, apakah obat bekerja atau dia akan bangkit melawan?
Episode ini dimulai ketika Briel meminta kakaknya membantu berpakaian setelah seseorang menyiramnya kopi; ia mengeluh panas, bersikeras ingin pacaran, bahkan minta ciuman lalu pingsan. Kakak panik dan segera memeriksa, lalu menemukan Briel keracunan karena ada obat perangsang yang diberikan oleh sekelompok penjahat. Amarah kakak meledak; dia bertekad 'bereskan' para pelaku dan mengancam balas. Situasi memaksa keputusan cepat dan konfrontasi segera. Ketegangan berpusat pada siapa yang bertanggung jawab dan langkah pembalasan kakak, meninggalkan ancaman dan konsekuensi yang belum terselesaikan.
Episode dibuka dengan adegan tegang: seseorang menantang lawan bersenjatakan pedang 'bunuh aku', sementara Tom muncul dan menuduh lawan memakai cara kotor. Terungkap rencana paksa: ayah menyarankan obat perangsang dan paksaan sebagai cara membuat korban mau. Adegan berpindah ke pesta, seorang pria kaget menemukan satu wanita di sofa, menyadari peluang 'dua sekaligus', memutar lagu 'Kupu-Kupu Malam' dan mengumbar niat 'aku mau habiskan malam bersama dua putri Keluarga Lika'. Ketegangan memuncak ketika perkelahian dimulai; seseorang menawarkan bantuan bertarung, lalu terdengar ancaman 'kubunuh kau!', meninggalkan konflik yang belum terselesaikan.