Di episode ini, seorang pemuda menghabiskan tabungannya untuk membeli tanah kuburan dan bilang akan segera mati, memilih lokasi terpencil agar menjauh dari keluarganya. Bergeser ke rumah sakit, Yeri mendadak butuh transfusi; Lia diminta mendonor. Narator memperkenalkan Erik sebagai pewaris kaya dan tunangannya, yang dulu dia kira mencintainya. Petugas langsung mengambil darah karena golongan Rh negatif; seorang pendonor minta maaf karena menggenggam terlalu keras dan ditenangkan bahwa darah yang diambil sedikit. Episode berakhir ketika seseorang memanggil, 'Lia, ke mana saja kau?', meninggalkan ketidakpastian.
Seorang anak yang diadopsi oleh keluarga Terada menjelaskan bahwa dia dipertahankan sebagai 'bank darah' untuk Yeri yang tubuhnya lemah. Di perayaan ulang tahun keluarga, Yeri dan Lia mendapat perhatian; Kak Erik memberi kado dan dianggap paling baik oleh si anak. Ketika anak itu menolak pertunangan Erik dengan Lia, Erik berkata pertunangan itu demi kebaikannya, demi memastikan darah tersedia. Anak itu kemudian menyadari bahwa Erik menipunya: pertunangan itu diatur untuk mengamankan akses darah dan memanfaatkan perasaan Yeri. Episode berakhir dengan rasa dikhianati dan ketegangan tentang apa yang akan dipilihnya selanjutnya.
Yeri terbaring lemah setelah pemberian darah, ibunya dan Kak Erik berjaga memintanya minum sup ayam namun Yeri menolak, mengatakan Lia sudah memberi banyak darah untuknya dan meminta agar porsi diberikan kepada Lia. Kak Erik dan ibu khawatir; satu orang menegaskan tubuh Yeri rapuh sehingga harus dijaga. Ada kekhawatiran bahwa donor bisa menjadi anemia dan 'nggak bisa dipakai Yeri?'. Di akhir, seseorang berkata, "aku akan mati dalam enam hari. Nggak akan pernah muncul di hadapan mereka lagi," pengakuan yang mengubah suasana dan meninggalkan ancaman waktu yang belum terjawab.
Episode dibuka dengan Lia yang berbisik bahwa dalam lima hari ia bisa benar-benar pergi, menandai niatnya. Yeri baru keluar dari rumah sakit dan Kak Erik merawatnya saat keluarga berkumpul. Mereka khawatir karena wajah Lia tetap pucat dan Lia sering pergi tanpa memberi tahu, sehingga Ayah menegur dan memperingatkan agar ia tidak meninggalkan rumah demi Yeri. Semua orang sudah menyiapkan kado untuk Erik hari itu; Erik menanyakan kado Lia, namun Lia tak punya. Ayah lalu mengatakan ada satu kado yang cuma Lia bisa berikan—ucapannya terputus, meninggalkan pilihan Lia yang belum terselesaikan.
Keluarga terkejut ketika Lia mengumurkan dia akan bertunangan dengan Kak Erik bulan depan; percakapan cepat mengungkap bahwa umur Yeri "nggak panjang" sehingga keluarga ingin memenuhi permintaannya, dan menegaskan hubungan itu hanya akting: "yang mau kunikahi itu kau". Lia berencana pergi beberapa hari ke Yudora untuk mencari inspirasi menyelesaikan lukisan, memicu kekhawatiran siapa yang akan menjaga Yeri; muncul usul menghentikan uang jajan agar Yeri tetap di rumah. Erik menyiapkan kamar di atas dan memintanya melukis di sana. Episode ditutup dengan Lia setuju tinggal sementara dan Yeri diberi makan, namun nasib Yeri dan dampak pertunangan pura-pura tetap menggantung.
Lia menolak menghadiri pesta tunangan dengan Erik lalu mendorong Yeri ke kolam; Yeri hampir tenggelam dan dilarikan ke rumah sakit setelah diselamatkan oleh seorang satpam. Di tengah kekacauan, kantor mengabarkan bahwa barang-barang Lia dibakar, namun sebuah paket—mawar dari Erik saat ulang tahun ke-18—diterima. Bibi Siska mengungkap satpam yang menyelamatkan Yeri, bukan Erik, dan rumor bahwa kedekatan itu bisa disalahartikan mulai merebak. Erik datang, menegur Lia atas tindakan yang membuat Yeri pingsan, memerintahkannya mengaku di Aula Leluhur dan menjanjikan akan memohon untuknya. Lia harus memutuskan apakah ia akan mengakui perbuatannya.
Di hadapan keluarga Terada, Lia dituduh mencoba menenggelamkan Yeri yang kini di ICU; keluarga menegaskan nyawa putri mereka hampir hilang kalau Erik tak menyelamatkan Yeri. Tudingan memicu sidang keluarga di hadapan leluhur: Om dan Leon memerintahkan hukuman 20 kali cambuk. Erik—yang memperkenalkan Lia sebagai tunangannya—memohon agar dia minta maaf agar masalah selesai, tapi Lia berdiri keras dan menolak mengaku bersalah. Eksekusi dimulai; 'ini yang pertama' terdengar saat cambukan pertama dijatuhkan. Dengan Lia tetap membangkang, keputusan selanjutnya dan konsekuensi hukuman masih menggantung.
Episode ini dimulai dengan konfrontasi tajam: Lia dituduh menyebabkan kebutaan Erik, disertai teriakan 'kurang ajar', dan dianggap menghilangkan kebebasannya serta pengganti bagi seseorang bernama Yeri. Ungkapan emosi berlanjut—pembedaan antara pemberian gelang, bunga, dan sup dipakai untuk menuduh ketidaksesuaian cinta. Konflik memuncak saat Erik mengabari Lia bahwa Yeri sudah bangun dan ia akan ke rumah sakit untuk membujuk Yeri memaafkan Lia. Di akhir, staf mengabarkan mobil akan mengantar Lia ke krematorium satu hari lagi, meninggalkan nasib Lia tergantung pada reaksi Yeri.
Lia muncul di acara keluarga setelah insiden kolam dan langsung mendapat kecaman; keluarga menekan dia untuk minta maaf pada Yeri, yang kondisinya tidak stabil dan mungkin butuh transfusi. Lia menolak meminta maaf dan menyatakan hubungannya dengan Erik berakhir: "Mulai hari ini, kita nggak punya hubungan apa-apa", lalu memerintahkan Bibi Siska membawa surat pemutusan itu ke pesta untuk diberikan pada Erik. Di pesta, Erik dipaksa bertunangan lalu melamar Yeri, yang menerima. Lia pergi; surat pemutusan yang akan diserahkan pada Erik meninggalkan pertunangan baru itu dalam ketidakpastian.
Lia Terada tumbuh sebagai anak angkat yang dieksploitasi jadi 'bank darah' oleh keluarga angkatnya. Ditipu tunangannya, pada usia 18 ia sampai pada titik ingin mengakhiri hidup. Titik nadir itu berubah ketika ia lepas dari bayang-bayang masa lalu, mendapat perlindungan keluarganya sendiri dan mulai membangun hidup yang aman. Lia menikah dengan Juna Yaris - pernikahan yang menjadi simbol pemulihan dan keberaniannya. Di balik kebahagiaannya, bayangan luka tetap ada, tetapi ia memilih melangkah maju. Ironisnya, Erik dan keluarga Terada yang dulu menyakitinya kini hanya bisa menyaksikan kebahagiaan Lia dengan penyesalan mendalam. Kisah berakhir pada kemenangan pribadi Lia: luka tak hilang seketika, namun hidup barunya membuktikan ia tak lagi terikat pada penderitaan masa lalu.