Lingga, yang sebelumnya dekat dengan Kirana untuk warisan orang tuanya, menghadapi penolakan setelah Kirana membuktikan dirinya sebagai Bakat Kelas Wira dengan Kucing Roh Pemikat. Teman-teman dan orang lain menilai Lingga sampah dan pengkhianat, memicu konflik dan penghinaan yang tajam. Kirana menyatakan Lingga tidak berguna dan mengakhiri hubungan mereka, menguatkan tekad Lingga untuk bangkit dan membuktikan dirinya lagi. Tekanan ini memuncak pada keputusan Lingga untuk berjuang demi membalikkan keadaan, meninggalkan ketegangan dan konfrontasi yang belum selesai.
Lingga yang berusia 18 tahun akhirnya mengalami kebangkitan kedua sebagai Naga Sayap Petir, mengubah statusnya dari Bakat Kelas Fana menjadi Kelas Sukma Naga. Namun, kebangkitannya dipandang rendah oleh sekelompok orang yang menganggapnya masih lemah dan sampah. Salah satu dari mereka menantang Lingga untuk bertarung dan berencana menghabisinya, menimbulkan ancaman langsung pada Lingga yang baru saja mulai menunjukkan kekuatannya. Konflik ini menegaskan bahwa perjalanan Lingga sebagai penyelamat umat manusia baru saja dimulai dan menghadapi tantangan besar yang belum terpecahkan.
Lingga, yang baru bangkit dengan level 1, menantang Bagas, seorang Pendekar Level 10 dari Kelas Wira, meski Bagas termasuk Kelas Sukma Naga yang lebih tinggi. Bagas meremehkan Lingga dan mengandalkan jurus Cakar Macan Api level 10 miliknya untuk mengalahkan Lingga. Namun, Lingga mengungkapkan dia juga memiliki tiga jurus level 10 dari Naga Sayap Petir, mempertegas kemampuannya. Duel hidup mati dimulai dengan tekanan besar. Bagas, yang sering menindas Lingga, bertekad membunuhnya, tapi Lingga bersikeras tidak akan menyerah, menimbulkan ketegangan yang menggantung pada hasil pertarungan ini.
Pertarungan memuncak saat Naga Sayap Petir menekan Bagas yang sekarat. Lingga berusaha menghentikan pertarungan dan memperingatkan agar tidak membunuh teman sekelas. Ketegangan meningkat ketika utang pengkhianatan dan dendam lama muncul dalam konflik verbal mereka. Munculnya Wali Kota Wiratama, yang ternyata ayah Bagas, mengguncang situasi dan menghentikan perkelahian. Wali Kota menegaskan posisinya dan menentang pihak yang ingin membunuh Bagas. Namun, sikap dingin dan ketegasan Wali Kota menimbulkan pertanyaan tentang pengaruh dan kekuatannya yang sebenarnya, meninggalkan ketidakpastian tentang langkah selanjutnya.
Dalam episode ini, seorang pria muda yang adalah anak dari Cakra mengalami ketegangan saat ayahnya mendesaknya untuk membalas dendam dengan membunuh seorang musuh. Di tengah konfrontasi, terungkap bahwa Wiratama, yang mengklaim sebagai kakak ayahnya, menuduh Cakra berkhianat dengan bersekongkol bersama Ras Hewan. Wiratama membela tindakannya membasmi pengkhianat demi menjadi Wali Kota Jamanta yang baru. Ketegangan memuncak saat kemampuan anak Cakra yang kini mencapai Kelas Sukma Naga diakui, dan Wiratama menganggapnya ancaman serius yang harus dibasmi, mengungkap masa lalu pengkhianatan dan eksekusi oleh Wiratama. Konflik keluarga dan klaim kekuasaan yang belum selesai membayangi episode ini.
Seorang pria menuduh Lingga yang dianggap sebagai pembunuh orang tuanya, namun Lingga membantah dan mengungkap bahwa orang tuanya terlibat dengan kelompok Ras Hewan. Lingga menjanjikan klarifikasi kebenaran saat seleksi Skuad Elite tiga hari lagi. Dalam pertemuan, Lingga dipuji atas bakat Kelas Sukma Naganya, yang menjadi harapan masa depan manusia. Setelah itu, Lingga mendengar penjelasan tentang seleksi Skuad Elite yang akan memilih siswa terkuat dari kota untuk berlaga memperebutkan hadiah dan satu permintaan dari Raja, yang Lingga harap bisa digunakan untuk membersihkan nama orang tuanya.
Episode ini dibuka dengan pengumuman seleksi di Arena Tarung yang hanya bisa diikuti oleh juara satu sekolah, memicu persaingan ketat antara Bagas dan lawannya yang mengambil jatahnya. Peserta diminta memburu monster untuk mendapatkan poin, dengan risiko hidup dan mati. Wali Kota Wiratama hadir untuk inspeksi dan memberikan semangat. Fokus beralih pada Chandra, peserta unggulan dari SMA 2 Jamanta dengan level 15, yang diprediksi akan menjadi juara. Ketegangan meningkat ketika ujian dimulai dan semua peserta mulai bersiap menghadapi tantangan berbahaya di Arena Tarung.
Dalam episode ini, Lingga, pendekar Level 1 dan wakil Akademi Jamanta, ikut seleksi menggantikan Bagas yang absen. Lingga menghadapi lawan keras, Chandra, yang terkenal sadis dan sering mengeliminasi lawan tanpa ampun. Meskipun status Lingga sebagai Bakat Kelas Fana diragukan, dia tetap harus bertarung dalam arena. Pertarungan sengit terjadi saat Chandra menyerang dengan kekuatan penuh, memaksa Lingga berjuang keras untuk bertahan. Episode berakhir dengan ketegangan tinggi ketika Lingga mempertanyakan kemampuannya sendiri di tengah tekanan lawan yang jauh lebih kuat.
Seorang pria berani memasuki Danau Berdarah yang berbahaya dan terkunci, tempat orang tuanya meninggal secara misterius sebagai Pendekar Level 50+. Di sana, dia berhadapan dengan musuh yang mengaku membunuh dan memfitnah orang tuanya sebagai sekongkol monster. Musuh mencoba membunuh pria itu dengan bakat khususnya, Hantu Penelan yang mampu menyerap kemampuan lawan. Namun, pria itu menggunakan jurus baru, Naga Sayap Petir, untuk melawan musuh yang meremehkan kekuatannya. Konflik meningkat saat pertarungan bakat dan kekuatan supernatural memanas, meninggalkan ketegangan apakah pria itu bisa membalas dendam dan mengungkap kebenaran.
Lingga berjuang mati-matian melawan lawan yang tingkat kekuatannya jauh lebih tinggi. Meski tenaga habis, serangannya masih bisa ditahan oleh kelas Sukma Naga musuh. Saat hampir kalah, Lingga berada di ambang kematian namun memanfaatkan jurus khusus 'Pembalikan Hidup dan Mati' yang membangkitkan bentuk baru, Naga Obor Waktu. Jurus ini tidak hanya menyelamatkannya tapi juga meningkatkan kekuatannya, berkat kekuatan mayat kelas Sukma Naga yang memulihkan sekaligus memperkuatnya. Namun, muncul pertanyaan misterius yang membuka potensi bahaya baru di akhir episode.