Di jalan Kabupaten Rahaja, sekelompok pendatang yang baru datang dihadang oleh pemalak yang menuntut uang—awal 10 tael lalu melonjak menjadi 300 tael—dengan ancaman melarang mereka keluar dari kabupaten. Pemalak merendahkan mereka sebagai "orang miskin" dan memerintahkan serangan; pendatang melawan hingga terjadi bentrokan dan makian. Ketegangan memuncak saat seorang yang mengaku Tuan Bupati datang dan menuntut ketertiban. Episode berakhir pada momen itu, semua menunggu tindakan otoritas; apakah pemalakan dihentikan atau tuntutan tetap dipaksakan masih belum terjawab.