Setelah kembali dari dinas militer, seorang pria menghadapi konflik serius dengan Winda, seorang penari papan atas yang diduga mencoba menjebaknya agar hamil. Dia berjanji akan menikahi dan menjaganya, namun menolak tunduk pada keinginannya. Dalam episode ini, Winda sedang melakukan tur ke-99 dengan tarian kuno yang memukau sekaligus menghadapi penyakit jantung yang mengancam. Konflik memuncak saat pria itu tiba-tiba menyadari dirinya melintasi waktu ke tahun 1980 dan bahwa Winda sedang hamil, meninggalkan ketegangan besar tentang konsekuensi dan masa depan mereka.
Winda mengalami sakit perut hebat dan kelelahan, khawatir mengalami keguguran di tengah tekanan dari keluarga suaminya yang meremehkan dan mengkritik kehamilannya. Ia terjebak dalam konflik dengan keluarganya yang memandang rendah dirinya sebagai menantu, sementara Winda merasa terisolasi dan lemah. Ancaman dari seseorang yang memaksa Yuda menikahi Winda juga menambah ketegangan. Saat Winda tidak bisa membuka pintu kamarnya karena kondisinya memburuk, Yuda tiba dan menghadapi situasi genting ini, meninggalkan ketidakpastian tentang nasib kehamilannya dan hubungan mereka ke depan.
Winda sedang menderita kurang gizi dan kelelahan karena kehamilan anak kembar, membuatnya pingsan dan sulit makan. Suaminya, Pak Yuda, seorang komandan muda dari keluarga militer tiga generasi, pulang untuk menjaganya, namun tetap menunjukkan sikap dingin dan tegas bahwa dia tidak menyukai Winda karena masalah sebelumnya di kompleks militer. Winda berjuang agar Pak Yuda menerima kondisi dan usaha kerasnya menjaga kesehatan demi anak mereka, sementara Pak Yuda bersikeras agar Winda menjalankan perannya dengan baik untuk mendapatkan hormatnya. Episode berakhir dengan Winda yang masih kesulitan dan Pak Yuda mempertahankan sikap penuh syarat, meninggalkan ketegangan tentang masa depan hubungan mereka.
Winda menghadapi tekanan dari seorang wanita yang menuduhnya licik dan berusaha merebut suaminya, Kak Yuda. Konflik memuncak saat Winda yang tengah hamil tiga bulan merasa sakit karena pertengkaran itu. Kak Yuda berusaha menenangkan Winda dan siap mengurus administrasi agar Winda pulang, sementara wanita itu terus mengejek dan merendahkan Winda dengan klaim bahwa dia lebih pantas menjadi istri Kak Yuda. Ketegangan antara Winda dan wanita tersebut tetap belum terselesaikan dan memperlihatkan ancaman yang berkembang terhadap hubungan Winda dan Kak Yuda.
Dalam episode ini, seorang pria yang berperan sebagai ayah bayi dan seorang wanita yang sedang hamil terlibat dalam ketegangan karena kebiasaan dan kedekatan mereka yang belum akrab. Pria itu datang tengah malam membawa minyak pijat dari ibu wanita untuk menenangkan janin, namun wanita itu menolak keakraban mereka. Wanita ingin bekerja di grup seni yang dipimpin ibu mertuanya, meski ditentang pria tersebut yang menyarankan agar dia fokus menjaga kehamilan. Konflik berlanjut dengan keputusan wanita mencoba bekerja demi masa depan mereka. Sementara itu, pria itu harus memimpin produksi pengelolaan sawah dan pekerjaan sosial, menghadapi beban tugas yang besar. Episode ditutup dengan penundaan rapat dan pria itu diajak keluar secara mendadak, meninggalkan ketidakpastian mengenai langkah selanjutnya.
Dalam episode ini, grup seni mengalami kesulitan mencari penari tari tradisional yang cocok menjelang pentas besar. Meskipun Sinta, penari balet andalan mereka, membawa banyak kemenangan, grup harus menampilkan tari tradisional agar dapat diterima oleh tentara yang menjadi penonton utama. Winda yang tengah hamil tiba-tiba muncul dan mengejutkan semua orang dengan niatnya bergabung di grup seni, menolak pekerjaan di kantin yang disiapkan untuknya. Keputusan Winda untuk menari tradisional membuka konflik baru yang akan menguji dinamika kelompok dan persiapan pertunjukan berikutnya.
Winda yang tengah hamil bertekad membuktikan kemampuannya dalam tari tradisional meski dihadang keraguan dari Sinta, anggota grup seni yang meremehkannya dan menganggapnya sombong. Sinta menuduh Winda hanya ingin jadi pusat perhatian, sementara Winda menantang dengan menyebut dirinya ahli kebangkitan tari Burung Merak yang lama hilang. Konflik memuncak saat Winda berjanji akan menggunakan tarian itu untuk mempermalukan Sinta, yang menanggapi dengan kekecewaan mendalam dan menuduh Winda tidak menghormati tradisi. Ketegangan antara mereka menggantung tanpa penyelesaian, menimbulkan pertanyaan tentang masa depan grup seni.
Winda berdebat sengit dengan ibu mertuanya, Bu Reni, yang menuduhnya berbohong soal kemampuan menari tari Burung Merak yang baru ditemukan. Bu Reni meragukan Winda karena sebelumnya ia tidak pernah belajar menari, apalagi tari kuno itu, dan bahkan mempertanyakan kesetiaannya dalam keluarga. Winda bertekad membuktikan dirinya dengan berjanji menghidupkan kembali tarian tersebut meski sedang hamil tujuh bulan. Konflik makin meruncing saat Bu Reni menekan Winda untuk berhenti dan pulang, sementara Pak Yuda mulai ikut menentang Winda. Namun, Yuda melembut dan mendukung Winda agar diberikan kesempatan mencoba, meninggalkan ketegangan yang belum terselesaikan tentang penerimaan Winda di keluarga.
Yuda datang untuk memastikan istrinya Winda tidak membuat masalah saat sedang hamil, tapi Winda bersikeras menari di acara militer meski risiko kehamilannya. Bu Reni sebagai guru menegaskan pentingnya posisi anggota seni militer dan keahlian menari, terutama menari Burung Merak yang sulit. Pak Tanto, ahli tarian Burung Merak, tiba untuk merekrut Bu Reni dan menguji kemampuan Winda yang mengaku bisa menari itu. Ketegangan meningkat saat Winda berhadapan dengan ahli, sementara ancaman pengusiran dari keluarga Lunetta muncul sebagai konsekuensi gagal menari.
Winda, seorang penari baru di grup seni era 80-an, bersikeras bahwa dia bisa menari tarian Burung Merak meskipun belum pernah dilatih resmi. Dia bertemu Pak Tanto, tokoh legendaris tari tradisional yang sudah lama meninggal, dan ingin menunjukkan kemampuannya. Meskipun banyak yang meragukan, Pak Tanto memberikan Winda kesempatan tampil hari itu. Ketegangan muncul ketika Yuda dan anggota lain menolak dan mencemooh Winda, menganggapnya sombong. Namun, Winda tetap bersikukuh dan mempersiapkan diri tampil di hadapan Pak Tanto, meninggalkan rasa penasaran akan penampilan dan penerimaannya selanjutnya.