Tuan Joko memegang inti emas yang diyakini memberi keabadian dan menolak mengembalikannya meski diminta, menghadapi ancaman karena keserakannya bisa membunuh banyak orang termasuk anak-anak. Meski diperingatkan tentang konsekuensi darah dan penyesalan, Joko tetap bersikukuh demi hidup abadi. Di sisi lain, Santo yang terlibat dalam konflik ini mengaku masih butuh waktu, tapi kepercayaan mulai hilang karena diduga berbohong. Ketegangan meningkat saat batas waktu habis dan permainan berbahaya antara mereka resmi dimulai, menggantung nasib semua pihak.