Ketika orang-orang Anka mengepung dan rumah jadi tak aman, ketua memerintahkan warga bertahan. Suara bahwa 'dia datang' memicu harap; ketua menjelaskan anak kecil itu adalah gadis suci syaman dengan lonceng perak dan ilmu syaman yang berkelana di dunia manusia. Seorang anak kemudian berseru "matahari terbit. Kita menang", warga pun merayakan kemenangan. Namun beberapa penduduk mengejek penampilan putri dari desa sebagai 'anak desa' norak. Perayaan dan hinaan ini meninggalkan ketegangan: kedatangannya mengubah keadaan, tetapi sikap sinis warga terhadap sang putri belum terselesaikan.