Seorang anak kecil datang ke depan rumah mengaku sebagai putri Tuan Luki, diduga diantar oleh kakek untuk mengecoh. Ibu menolak ikut campur urusan Keluarga Kak Rio, sementara beberapa orang menyangsikan maksud anak itu karena disebut anak Kak Rio. Mereka khawatir anak dikirim untuk mengawasi Tuan Luki dan membatasi kebebasannya. Seseorang menjamin bisa mengusirnya dan diperintahkan untuk melakukannya. Tuan Luki sedang di toilet, anak menangis di ambang pintu, dan keputusan untuk mengusirnya meninggalkan nasib anak itu belum terselesaikan.