Tania mulai mempertimbangkan apakah harus memberitahu Pak Erwin tentang kehamilannya, khawatir dia akan menolak karena sifatnya yang keras. Dia pun mencoba menghubungi Pak Erwin dan mengajak bertemu malam di restoran untuk membicarakan hal penting. Namun, berita mendadak datang bahwa nenek Pak Erwin mengalami pendarahan otak dan harus segera dibawa ke rumah sakit, membuat Pak Erwin buru-buru pergi tanpa memberikan perhatian pada Tania dan masa depan anak mereka. Merasa ditinggalkan, Tania menyesal dan merasa tidak mampu membesarkan anaknya sendiri, meninggalkan ketegangan yang belum terselesaikan soal kehamilan dan hubungan mereka.