Di meja makan, Wina dituduh berpura-pura memanfaatkan kasih sayang Nenek; hinaan membuatnya pucat dan seorang kerabat mengancam pembuat onar—"kalau Jihan terjadi apa-apa, aku mau kau ganti nyawa"—sementara Jihan jadi pusat kekhawatiran. Adegan bergeser ke istana: seseorang melapor kepada Baginda dan Permaisuri bahwa penyakit Putri Jihan bukan penyakit biasa, tampak seperti ilmu sihir, dan memohon keadilan. Ketegangan memuncak saat seorang pejabat mengeluarkan makian dan memerintahkan "cepat berlutut," menyisakan ancaman hukuman dan misteri tentang penyebab sakit Putri.