Putri Yunis, keturunan pahlawan dan teman masa kecil Putra Mahkota, mendesak ayahnya agar diizinkan menjalani pernikahan politik di Balangga, meski ayahnya keberatan karena medan yang dingin dan berbahaya. Ia mengungkapkan kesiapan dan keinginannya meringankan beban ayahnya yang merasa bersalah atas pengorbanan keluarga mereka. Sementara itu, Putra Mahkota berniat menikahi Kinaya, adik separjuangan Yunis yang dijaga oleh Yunis setelah kakaknya gugur. Ayah Yunis akhirnya menyetujui permohonannya dan mengumumkan gelar kehormatan bagi Putri Yunis sebelum keberangkatan, mempersiapkan babak baru yang menegangkan.
Yunis dan Kakak Putra Mahkota berangkat ke istana di tengah suhu dingin, sementara Yunis harus menanggung dingin karena mengenakan baju tipis tanpa bantuan pelayan. Mereka membahas keputusan mengirim seorang putri ke Balangga yang sudah diputuskan, dan Yunis merasa tidak mungkin dia yang dikirim. Konflik muncul ketika Yunis ingin menjaga seorang wanita bernama Yaya yang rela menjadi selir demi kebersamaan, namun Kakak Putra Mahkota menolak ide itu dan berencana memberikan status resmi kepada Yaya. Ketegangan bertambah saat Yunis menolak berbagi kereta dengan Yaya, hingga akhirnya Kakak Putra Mahkota sadar dari pingsan setelah pertolongan Yunis. Namun, hubungan mereka tetap tegang karena masa lalu dan pengkhianatan di salju yang belum terselesaikan.
Putri menderita penyakit serius karena nekat menembus badai salju meski harus dijaga ketat musim dingin, dan kini nyawanya terancam. Tabib Janggala menyampaikan kondisi organ dalam Putri sudah rusak parah dan berharap menemukan jalan agar Putri bisa bertahan demi menghindari perang antar kerajaan. Kaisar menyebutkan Pil Purnamasiddhi, satu-satunya obat yang mampu menyelamatkan Putri. Namun, Pil ini hanya tersedia satu dan berada di kediaman Putra Mahkota, yang harus memutuskan apakah akan memberikannya. Episode berakhir dengan ketegangan saat Putra Mahkota berhadapan dengan pilihan sulit menyelamatkan Putri atau mempertahankan pil tersebut.
Putri jatuh pingsan setelah nekat berjalan di salju, memicu kekhawatiran Yunis yang merasa bertanggung jawab karena sebelumnya melarang banyak pelayan mengantar Putri. Yunis menyesal dan membandingkan kondisi Putri yang hidup mewah dengan dirinya yang miskin dan rentan sakit. Sementara itu, Putri masih belum sadar, dan muncul tekanan dari orang lain yang mengingatkan bahwa Putri akan menikah demi perdamaian antara dua negara, membuat keselamatan dan pernikahan Putri menjadi fokus utama. Episode berakhir dengan kebingungan tentang kabar pernikahan Putri yang belum terjawab.
Tisha terluka parah dan membutuhkan obat yang dipegang Putra Mahkota, namun terjadi ketegangan soal kebenaran kabar pernikahannya dengan Putra Mahkota yang dianggap bohong. Sementara itu, usaha penyembuhan Putri dengan obat keras berhasil menurunkan demamnya, walau meninggalkan efek samping batuk seumur hidup. Yunis, yang juga sakit, menyalahi diri sendiri karena telah pura-pura sakit dan merebut obat penting dari calon Permaisuri Kinaya, yang kemudian memerintahkan pengawal untuk menangkap Kinaya. Ketegangan meningkat saat Kinaya menghadapi tuduhan penghinaan dan ancaman hukuman di mahkamah, meninggalkan konflik status dan kekuasaan yang belum selesai.
Dalam episode ini, Kak Yunis merasa iri dan marah pada Yaya yang dianggap merebut posisi Putri Mahkota. Yunis secara tidak sengaja menumpahkan obat ke pakaian Kakak Putra Mahkota dan dihukum keras, bahkan diancam akan dikirim ke Mahkamah Agung karena statusnya yang rendah. Kakak Putra Mahkota menunjukkan sikap tegas dan menegur Yunis atas kesalahannya, sedangkan Yunis pasrah menerima hukuman dan menyatakan dirinya tidak berdaya. Ketegangan memuncak saat Kakak mempertanyakan niat Yunis menikah dan masa depan hubungan mereka, meninggalkan pilihan sulit yang belum terjawab.
Yunis menunjukkan saputangan yang tercium darah, menandakan penyakitnya semakin parah meski sudah minum obat. Ketegangan muncul antara Yunis dan Kinaya, yang menuduhnya berbohong tentang kondisinya. Yunis berusaha menenangkan dan meminta istirahat, serta berjanji akan dijenguk beberapa hari ke depan. Di sisi lain, Kakak Putra Mahkota bersiap memimpin pasukan sesuai titah ayahnya, dengan janji akan kembali sebelum gaun pengantin sang wanita selesai. Namun, Hutama mendengar ada keraguan hati, lalu memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba, meninggalkan ketidakpastian di akhir episode.
Putri sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Balangga, menerima kecapi berharga peninggalan ibu suri sebagai bagian mas kawin dari Kaisar. Namun, saat kecapi tersebut dirawat, Kinaya disengaja melepasnya hingga rusak, menimbulkan kemarahan dan kecaman dari Tisha. Kinaya dianggap menghina mendiang ibu suri, sehingga Tisha memerintahkan untuk memukulnya. Ketegangan memuncak saat Putri harus menghadapi pengkhianatan di tengah persiapan pernikahannya, meninggalkan konsekuensi serius yang belum terselesaikan di akhir episode.
Kakak Putra Mahkota tiba untuk menengahi konflik saat Yunis menghukum Yaya karena merusak kecapi Laras Agni miliknya. Meskipun Yunis marah, hati Kakak tersentuh karena Yunis tidak memiliki kerabat lain, sehingga dia berjanji melindungi Yunis. Festival Lampion mendekat, dan meski Kakak tak bisa menemani Yunis, dia berencana membelikannya kecapi baru. Di pasar malam, Yunis mulai menyadari kesibukan Kakak yang menjauhkan mereka. Ketika Kakak mengatakan akan pergi ke Balangga setelah festival, Yunis menolak janji melihat lampion tahun depan karena dia berencana meninggalkan Pundarika. Ancaman perpisahan ini menggantung tanpa jawaban.
Yaya mengalami pusing dan tidak seimbang saat membicarakan Yunis yang akan mengunjungi kakeknya sebelum menikah. Yaya merasa kesepian setelah kematian kakaknya, sementara Yunis berjanji membuatkan lampion kelinci yang istimewa untuk Yaya. Saat acara lampion, ada ketegangan karena muncul ancaman pembunuh yang mengincar Yunis, sang Putri. Yaya yang tak punya pengawal merasa takut dan meminta bantuan kakaknya. Episode ini berakhir dengan kecemasan atas keselamatan Yaya dan Yunis yang terancam oleh bahaya yang belum terungkap.