Aruna dipaksa menyembunyikan jati dirinya: setelah ayahnya gugur, Raja mengangkatnya dengan identitas laki-laki untuk mempertahankan hak keluarga, dan ibunya memperingatkan bahwa pengungkapan berarti hukuman mati. Seorang pembunuh bayaran abad ke-21 yang kini terperangkap dalam tubuh itu bergulat dengan mimpi buruk dan harus berperan sebagai bangsawan hedonis. Teman seperjalanan mengajaknya melihat dunia luar; saat mereka bersenda, kedatangan Adipati Agung memicu kepanikan karena reputasinya yang kejam. Mereka kemudian berjajar memberi hormat kepada Pangeran Rian, dan adegan berakhir ketika seseorang memerintahkan 'Bangkitlah', meninggalkan ancaman identitas dan pilihan yang belum terjawab.
Di episode ini, sekelompok orang muda, termasuk seorang pemuda yang mengaku putra Arka Wiratama dan dua wanita pelayan, terkejut saat Adipati Agung Elran, bangsawan militer berkuasa yang konon mandul, muncul menatap calon selir. Mereka dihina, mendiskusikan wajahnya yang pucat dan perilakunya yang 'psikopat', lalu khawatir akan diseret ke kediamannya dan 'jadi dua saudari' melayani suami yang sama. Satu wanita mempertimbangkan pura-pura mati dan kabur atau menjauh dari ibu kota karena akan segera bertunangan. Ketika datang laporan bahwa Raja akan memilih selir untuk Adipati Agung, ketegangan memuncak dan keputusan melarikan diri atau menyerah tetap menggantung.
Penduduk panik ketika istana mengumumkan pemilihan selir laki-laki atas perintah Raja untuk Adipati Agung; disebutkan semua laki-laki di bawah delapan belas di ibu kota mungkin dipanggil, dan seorang pemuda menyadari usianya cocok. Adipati Agung tiba sehingga semua diminta menyambutnya, sementara Tuan Sugeng melarang banyak pertanyaan tentang maksud kunjungan. Seorang wanita berdoa agar tidak terpilih lalu mengalami penglihatan leluhur dan suami yang sudah tiada. Aruna dipanggil; canggung ditanya soal lapar, ia mencantumkan makanan dan mengaku tukang makan. Ketegangan pemilihan tetap menggantung dan nasib pemanggilan belum jelas.
Seorang wanita diperiksa di hadapan Yang Mulia; ketakutannya sampai membayangkan kafan dan peti, lalu dia bertanya apakah dipilih menjadi selir sementara Yang Mulia menegaskan 'Besok aku bakal menyuruh orang menjemputmu ke rumah.' Dalam adegan lain, sekelompok pemuda termasuk Tuan Muda datang ke makam Tuan Arka; mereka menggali lubang untuk mengubur beberapa tael perak sebagai uang pelarian. Perempuan itu memohon kepada ayahnya agar melindungi dirinya dan membatalkan pertunangan dengan Adipati Agung karena ia tak sanggup melayaninya. Dengan permohonan ampun yang ditimbang dan rencana kabur yang dipersiapkan, keputusan dari Yang Mulia dan ayahnya masih menggantung.
Aruna diberitahu bahwa kakek dan paman-paman memutuskan malam ini ia akan dibawa ke kediaman Adipati, sehingga ia tak bisa melarikan diri. Ibu menolak membawa kabur karena khawatir nyawa mereka terancam jika penyamarannya terungkap; ia bahkan mengancam akan memberitahu kakek bahwa Aruna sebenarnya perempuan. Untuk melindungi ibu, keluarga sepakat mengirim ibu ke rumah ayahnya jauh dari ibu kota. Aruna, yang menyebut dirinya seorang pembunuh, pasrah secara terpaksa menjaga rahasia dan berharap jarak akan mengalihkan hukuman Adipati, namun ancaman pembalasan masih menggantung.
Aruna diantar ke istana oleh Kak Rian dan dihadapkan pada Yang Mulia yang menyuruhnya datang untuk melayani hari itu juga. Setelah diketahui Aruna berasal dari keluarga Prawira, Yang Mulia mengejek bahwa keluarganya menjual putri demi kekuasaan dan memintanya 'ditunjukkan' kehebatannya secara terbuka; Aruna menolak dan merasa dipermalukan. Yang Mulia merendahkan kemampuannya, menyebutnya tak berguna, lalu mengancam akan mempertemukannya dengan ayahnya, Arka, yang meninggal tanpa pernah melihatnya. Episode berakhir dengan ancaman itu menggantung, memaksa Aruna menentukan langkah berikutnya segera sendiri.
Di hadapan Yang Mulia, Aruna berusaha mempromosikan diri: bukan hanya pintar makan dan tidur, tapi juga bisa segalanya di atas ranjang, dan jago bertarung. Ia mencoba merayu sambil bertanya boleh mencium, namun Yang Mulia meremehkan mereka yang terlalu banyak dan menunjukkan temperamen buruknya. Ketika diberi kesempatan mengucap kata terakhir, Aruna memuji rupa sang penguasa. Orang di sekitarnya mengejeknya naif. Diceritakan Yang Mulia sudah mengeksekusi banyak orang dengan cara serupa, tetapi aksi Aruna barusan justru menciptakan cara mati yang belum pernah ada. Episodenya berakhir dengan nasib Aruna tergantung pada keputusan Yang Mulia.
Ibu Suri tiba-tiba pingsan, dan Raja memerintahkan seorang wanita segera ke istana; dia diperintahkan tinggal dan diawasi. Dalam kekalutan itu wanita tersebut berpikir bunuh diri namun memilih bertahan dan mencari cara hidup. Yudhi diperintah menyelidiki ketakutan terdalam Aruna, sementara Elran dan Ibu Suri membahas menempatkan Putri Leila Pranata untuk merawat Ibu Suri sementara; Leila setuju dengan enggan. Di akhir, Yang Mulia menantang Aruna soal ketakutan air: "kau mau turun sendiri atau mau aku yang melemparmu?" Aruna malah meminta Yang Mulia yang melemparnya, memicu ujian dengan konsekuensi yang belum jelas.
Aruna Wiratama, pembunuh bayaran papan atas, tewas lalu terbangun dalam tubuh seorang perempuan yang memiliki nama dan marga yang sama. Sejak kecil ayahnya gugur di medan perang. Agar selamat dan mempertahankan posisi Keluarga Wiratama, sang ibu menyamarkan Aruna sebagai laki-laki dan membesarkannya dengan identitas palsu. Aruna merindukan hidup sebagai perempuan, namun hidupnya dibayangi ketakutan: jika identitas terbongkar, bukan hanya ia tetapi juga ibunya akan terancam. Mereka merancang pelarian bersama. Sebelum rencana terlaksana, Aruna menarik perhatian Elran Adikara, pangeran Kerajaan Agrajaya yang berkuasa, berhati dingin, dan kejam. Aruna dibawa ke kediaman Elran. Sejak itu, demi bertahan, ia terjerat dalam permainan mental dan fisik yang memaksanya memilih antara mempertahankan topeng atau menyelamatkan ibunya.
Aruna Wiratama, pembunuh bayaran papan atas, tewas lalu terbangun dalam tubuh seorang perempuan yang memiliki nama dan marga yang sama. Sejak kecil ayahnya gugur di medan perang. Agar selamat dan mempertahankan posisi Keluarga Wiratama, sang ibu menyamarkan Aruna sebagai laki-laki dan membesarkannya dengan identitas palsu. Aruna merindukan hidup sebagai perempuan, namun hidupnya dibayangi ketakutan: jika identitas terbongkar, bukan hanya ia tetapi juga ibunya akan terancam. Mereka merancang pelarian bersama. Sebelum rencana terlaksana, Aruna menarik perhatian Elran Adikara, pangeran Kerajaan Agrajaya yang berkuasa, berhati dingin, dan kejam. Aruna dibawa ke kediaman Elran. Sejak itu, demi bertahan, ia terjerat dalam permainan mental dan fisik yang memaksanya memilih antara mempertahankan topeng atau menyelamatkan ibunya.