Di istana Maheswara, dua putri dipaksa mengikuti undian untuk menentukan siapa menikah ke Negeri Ardhani atau Negeri Liar; kayu pendek berarti Ardhani, panjang berarti Liar. Saat undian, warga menyimpulkan Putri Sekar mendapat kayu pendek dan mencela asal-usulnya, bahkan berspekulasi dia mungkin Putri Titisan Langit. Sekar menuduh undian diatur dan menuntut keadilan, namun Ayahanda menegaskan tugas negara dan mengancam akan membiarkan orang penyakitan ini mati jika ia menolak. Tertekan oleh celaan dan ancaman, Sekar akhirnya menyerah: "Aku akan menikah", meninggalkan nasibnya ke Negeri Liar sebagai ketegangan belum terselesaikan.
Putri Sekar dipaksa menikah ke Negeri Liar sementara saudara perempuannya, Putri Citra, mendapat pernikahan megah dengan Negeri Ardhani; keluarga mempermalukan Sekar—kereta kuda yang disediakan bekas milik pelayan, ibunya absen dari upacara. Sebelum berangkat Sekar berjanji pada ibunya bahwa ia akan kembali menjemput dan menyelamatkannya. Di perjalanan orang memperingatkan bahwa Negeri Liar kejam, bahkan 'mereka suka darah dan daging manusia', sehingga Sekar takut tak bisa pulang. Ketegangan memuncak saat panggilan untuk turun terdengar; perintah itu menempatkan Sekar di ambang takdir yang belum jelas.
Penduduk Negeri Liar panik saat rombongan membawa Putri Sekar dari Negeri Maheswara tiba; beberapa takut mereka akan dimakan, sementara Sekar cemas karena calon suaminya, Rendra, tak datang. Ibu Rendra menjemput Sekar dan menjelaskan tarian penyambutan. Sekar dipersilakan tinggal di rumah sederhana warga, bertemu Raina dan Rasya, dan menerima hadiah: pedang kesayangan serta sulaman motif naga yang dipermainkan karena 'terlalu maskulin'. Ia menyadari orang-orang tampak kasar tetapi berhati lembut. Ketika ia mulai menyesuaikan diri, seorang warga berseru, "Tuan sudah tiba!", meninggalkan ketidakpastian tentang siapa yang datang.
Episode dimulai saat Sekar tiba di rumah mertuanya untuk bergabung dengan keluarga penggembala sederhana. Warga memuji kekuatan para pria dan memanggil 'Tuan', namun tuan menegaskan bahwa di negeri mereka pria dan wanita setara dan tidak perlu sujud. Orangtua Rendra menjelaskan latar sederhana keluarga, menyebut Rendra pas-pasan, kurang peka, dan agak kasar, lalu menegaskan mereka takkan memaksa Sekar. Mereka menyambut Sekar, berjanji merawatnya, bahkan mengancam akan mengulit Rendra hidup-hidup jika ia menyakitinya. Rendra terlihat bengong sementara keluarga mengurusnya; lukisan dari Raja Ardhani dipakai sebagai taplak meja. Ancaman dan sikap Rendra menyisakan ketegangan yang belum terselesaikan.
Episode ini dibuka dengan sekelompok orang yang menemukan lukisan bernilai tinggi—tadinya ditawar tiga kota oleh ayah salah satu—namun kini dipakai sebagai taplak meja, memicu ejekan dan perdebatan. Perbincangan beralih ke giok hijau: beberapa mengecilkan nilainya, sementara seorang tamu mengklaim di negerinya sepotong giok kecil bisa membeli sebuah kota. Mereka menawarkan Sekar batu-batu rapuh dari belakang gunung dan dua karung kerikil dari sungai untuk ibunya, tetapi ditegaskan benda-benda itu tak berharga. Diskusi mencapai titik balik saat disebutkan tiga gunung tertinggi di sekitar, lalu ada pertanyaan mengejutkan: "gunung emas?" yang menggantung sebagai tanda tujuan berikutnya.
Sekar diperkenalkan pada kekayaan tersembunyi Negeri Liar ketika keluarganya menyerahkan pengelolaan usaha ternak padanya: jutaan sapi, kambing, kuda, dan bagal yang jauh melampaui citra miskin negeri itu. Ia terpana dan dijanjikan dukungan—Rendra mengurus kerja kasar, Arka siap membantu atur ternak lain. Di sela tawa, muncul pengakuan bahwa seseorang menyembunyikan statusnya sebagai Raja Adiwangsa dan teman-teman menunda mengungkapkannya. Persiapan malam pertama dipermalukan dengan pemberian pelicin. Rahasia raja yang belum terungkap dan beban mengelola jutaan ternak meninggalkan Sekar dengan kebingungan dan pilihan yang belum terjawab.
Di episode ini, Sekar dan pasangannya bersitegang setelah seseorang menemukan 'barang khusus wanita' dan menyuruh Sekar ganti baju; malamnya mereka berbaring bersama namun suasana berubah saat pasangannya meraba dan menemukan 'benda keras' di tubuh Sekar, menuduh ada senjata yang disangkal Sekar. Konflik memuncak ke pengakuan Sekar: "Aku mau kau," disertai janji akan menunggu bila perlu. Titik balik terjadi ketika pasangannya akhirnya membalas, "Aku juga nggak keberatan." Episode ditutup dengan ketertarikan yang baru tumbuh, sementara keberadaan benda keras itu belum terungkap.
Episode dimulai dengan keprihatinan atas kondisi Pangeran yang tampak lelah dan minta obat, sementara keadaan ibumu disebut mulai tenang. Sekar diminta pulang ke rumah orang tua dan menerima banyak hadiah: batu permata, giok pelindung, ginseng liar, obat-obatan, serta keranjang hasil bumi. Nina dan lainnya memperdebatkan jumlah dan nilai pemberian—Sekar bersikeras cukup pulang sendiri, tetapi ada yang mau mengantar. Arka mengatur jemputan ibumu dan menyiapkan hadiah agar pantas, memicu debat soal biaya dan kesesuaian; penerimaan hadiah dan siapa yang menemani masih menggantung.
Di episode ini, Citra pulang ke istana bersama suaminya, Pangeran Wisnu dari Ardhani, yang disambut penuh harapan keluarga; mereka memuji bakat Wisnu dan berharap Citra menjadi Ratu Agung serta menandingi Adiwangsa. Di sela sambutan, keluarga menghina Sekar, menyangka dia mungkin sudah mati dan meremehkan asal Suku Liar. Sekar ternyata hidup dan kembali bersama seorang pria dari Suku Liar; para kerabat mengejek pakaiannya yang sederhana dan suaminya yang dianggap tak beradab meski terlihat gagah. Kedatangan Sekar mengubah suasana jadi tegang, meninggalkan konflik kelas dan sikap keluarga yang belum terselesaikan.
Di tengah jamuan istana yang sudah disiapkan, menantu mempersembahkan giok Buddha dan mendapat pujian mertua. Ia menyebut suaminya Pangeran Ardhani dan berjanji akan mewakili sang pangeran berkunjung ke Negeri Adiwangsa bulan depan, untuk mempererat hubungan antarkerajaan. Pembicaraan beralih ke kabar bahwa Sekar hari ini pulang membawa suaminya dari Negeri Liar, yang diberitakan sedang dilanda wabah, sehingga keluarga khawatir penularan akan masuk ke negeri mereka. Menantu menenangkan dengan klaim bahwa ia tahu cara mengatasinya. Episode ditutup dengan ketidakpastian tentang langkah pencegahan yang akan diambil.