Di sekolah, Susi menjadi sasaran hinaan dan dorongan oleh teman-teman yang merasa dia tidak pantas berdiri di dekat Edy, siswa populer dan berlatar keluarga kaya. Ejekan memuncak menjadi konfrontasi fisik sampai seorang siswa lain membela Susi, menegur para pelaku, lalu secara mengejutkan menyatakan perasaan: 'Aku sudah lama menyukaimu.' Susi menerima. Edy kemudian mengantar Susi pulang; dia ragu saat tak diajak masuk namun akhirnya masuk ke rumah. Episode ditutup oleh suara lain yang bertanya apakah mereka sudah mendapatkan dia, meninggalkan kecurigaan dan ancaman belum terungkap.
Episode ini dibuka dengan Susi mendapat hinaan dan tekanan dari ibunya, ia diomeli karena pakaian dan diancam akan 'dijual' jika bukan karena prestasi, ibunya menuntut Susi menikah segera setelah ujian nasional agar mahar dari Amir bisa dipakai membiayai sekolah adiknya. Susi menolak sekolah, mau bekerja untuk mengumpulkan uang obat adik, lalu diancam akan dicabut status putri. Konflik mengeras ketika seorang pria tiba-tiba menyatakan perasaannya dan meminta Susi bersamanya. Di akhir, ibunya justru memberi dorongan ambigu agar Susi pergi mencari masa depan sendiri; Susi memutuskan hanya mengandalkan diri sendiri, pilihan tetap menggantung.
Di episode ini sekelompok murid merencanakan menjatuhkan Susi, juara satu yang pintar, dengan memanfaatkan Edy. Mereka menyinggung status keluarga—"ayahmu kepala sekolah" dan "ayahku mendonasikan banyak uang"—sebagai jaminan. Pengatur memaksa Edy menyatakan cinta lalu menggoda Susi supaya malas belajar sehingga tidak lulus; Edy setuju namun minta bunga dulu. Edy mulai mendekat dan berbicara soal perbedaan prestasi, sementara Susi menolak dan menegaskan bahwa masa depannya ada di tangannya sendiri. Episode berakhir menggantung pada pilihan Edy: menepati rencana itu atau mundur.
Menjelang ujian nasional, Susi ketahuan bolos dan sering main dengan Edy, sehingga guru memanggilnya ke kantor dan memarahi penurunan nilainya. Seorang siswa mengancam bahwa ketika dia menerima surat dari Universitas Damai dan ditinggalkan Edy, ia ingin melihat Susi menderita. Di kantor guru menunjukkan nilai 37; Susi menjelaskan orang tuanya menekan dia untuk cepat menikah agar adiknya bisa sekolah, dan menolak tawaran Universitas Hanum karena ingin ikut ujian demi impian ibunya. Susi mengakui sengaja jawab salah sehingga tercatat 37 padahal nilainya 748. Episode berakhir dengan rasa ada yang mengawasi mereka.
Situasi episode dimulai dengan Susi yang nilai percobaan turun sementara Edy berjanji memberi sesuatu setelah ujian nasional. Mereka berlatih bola, Susi berubah penampilan dan meminta Edy menjadi hadiah, lalu mengatur pertemuan malam di Taman Winola jam 8. Eskalasi terjadi ketika Susi tiba-tiba tampak linglung dan panas; teman curiga dia dibius dan menunjuk Yuli. Dalam kondisi itu Susi memaksa Edy, "cium aku", sementara Edy mengaku masa bersamanya paling bahagia tapi mengatakan mimpi ini akan berakhir setelah ujian. Pertemuan malam dan dugaan pengaruh pihak lain meninggalkan konsekuensi yang belum terjawab.
Desas-desus menyebar ketika murid melihat Susi dekat dengan Edy; Yuli menuduh dan memergoki mereka bermesraan di sekolah sehingga memicu konfrontasi. Susi membela diri, minta dipercaya: dia dan Edy "tidak ada apa-apa", meski mengakui suka pada Edy. Konflik bergeser saat pengumuman nilai: Susi kembali juara satu, mengungguli Yuli puluhan poin dan tampak merebut kuota di Universitas Bima. Terpojok, Yuli marah dan menuntut Edy membantu atau kembali padanya untuk menyalip Susi. Episode berakhir dengan desakan Yuli kepada Edy, meninggalkan keputusan dan hubungan mereka yang belum terselesaikan.
Episode ini dimulai saat Edy mendekati Yuli, menawarkan dirinya dengan syarat Yuli membantu mengalahkan Susi; Yuli menolak dan memohon Jangan sentuh aku! Edy berjanji akan meminta maaf pada Susi demi rencananya. Di depan Susi, Edy minta maaf, bersumpah memenuhi semua permintaannya dan ingin selalu bersamanya. Susi menuntut agar tidak ada wanita lain di sampingnya, termasuk Yuli. Ujian nasional usai; suasana beralih antara lega dan sindiran tentang masa depan Susi. Episode berakhir dengan keputusan Edy dan sikap Yuli yang masih menggantung.
Episode dibuka dengan ejekan terhadap Susi dan Edy; teman-teman meremehkan pilihan Edy, mendorongnya dan mempertanyakan perasaannya pada 'kutu buku' tersebut. Ketegangan meningkat saat seorang pelajar mengancam Susi, berjanji membuatnya menderita setelah pengumuman nilai dan menempatkannya "di bawahnya". Di sisi lain, Pak Toni diberi tahu munculnya juara nasional dari Kabupaten Kina; Pak Toni dan rektor bergegas merekrut sang juara untuk Universitas Bima dan takut direbut universitas lain. Perwakilan universitas lain mengontak pemenang dan menjanjikan penjemputan; ancaman dan perebutan kandidat tetap menggantung sebagai konflik terbuka.
Acara pengecekan nilai disiarkan langsung di sekolah; ayah Yuli, Pak Wendi, ikut hadir dan tim penerimaan Universitas Bima juga datang. Nilai siswa dibacakan satu per satu: Kent dan Yudi mendapat skor sedang, sementara Susi dicemooh karena nilai rendah dan dituduh sering pacaran; Edy membela Susi. Saat giliran Yuli, skor terungkap: total 729, tertinggi, para hadirin menyatakan dia kemungkinan juara provinsi bahkan juara nasional dan calon penerima satu kuota Universitas Bima. Susi yang nilainya jauh lebih rendah diolok dan harus pulang menghadapi pernikahan besok; konsekuensi reputasi dan pilihan masa depan kedua gadis itu masih menggantung.
Di depan guru dan orang sekolah, Susi bersikeras impiannya bukan masuk Universitas Bima, lalu terungkap nilainya anjlok sekitar 313 padahal dia juara kelas sebelumnya. Guru dan orang tua menuding pacaran di sekolah sebagai penyebab; seorang siswa mengakui tindakannya menurunkan nilai Susi. Akibatnya sekolah kehilangan kuota penerimaan tambahan dan Susi mendapat cercaan, ancaman harus menikah, serta terjadi perkelahian. Pasangan itu berdebat keras, "Mulai hari ini, kita nggak ada hubungan!", saling menuduh soal uang dan pemukulan. Episode ditutup dengan permintaan kepala sekolah untuk memeriksa nilai, menunggu keputusan atas nasib penerimaan.