Jansen kembali ke Desa Ziltar membawa hadiah dan angpau dua ratus juta, lalu berkumpul dengan warga dan Paman Deril. Saat pembagian, Paman Deril meminta tolong agar Jansen membawa dua anak yang satu menderita penyakit aneh ke kota karena fasilitas desa tak mampu. Warga mengulang permohonan, Jansen berjanji mencarikan rumah sakit dan dokter terbaik serta menganggap anak-anak seperti anak sendiri. Ia meminta anak-anak mengucap terima kasih, lalu mengundang empat anak itu ikut ke kota. Episode berakhir dengan Jansen menerima tanggung jawab membawa anak-anak ke kota untuk pengobatan, hasilnya masih belum terungkap.
Di rapat pagi, Pak Dirut kaget menemukan utang besar dan menolak usulan menghentikan proyek obat bertarget meski investasi 10 tahun mengancam kebangkrutan. Dokter memperingatkan obat itu menstabilkan penyakit anak; tanpa obat, kambuh dalam 10 tahun. Chandra dan Yuli dituduh tak hadir karena selama ini memindahkan dana perusahaan ke warga Desa Ziltar dan menghentikan gaji karyawan tiga bulan. Mereka datang dan terjadi konfrontasi: pegawai marah atas pemborosan sementara Chandra membela bantuan kepada desa. Episode berakhir dengan tuduhan belum terselesaikan dan nasib proyek serta posisi Chandra dan Yuli menggantung.
Di episode ini, warga Desa Ziltar dan beberapa kolega menantang Pak Jansen dalam rapat: mereka menuduhnya menyalahgunakan dana untuk penelitian obat bertarget dari 'barang rongsokan', mengorbankan perusahaan, padahal penyakit warga sudah dinyatakan sembuh. Konflik memanas menjadi penghinaan, dorongan fisik, dan tuntutan agar Jansen menandatangani dokumen itu. Tuduhan berlanjut ke rencana pengambilalihan terbuka: mereka terang-terangan ingin 'ambil alih' perusahaannya dan menyuruhnya menyerahkan kursi kepada yang muda. Episode ditutup dengan Jansen menyadari ancaman kehilangan kendali perusahaan, memilih apakah akan melawan atau mundur.
Direksi perusahaan mengepung pemilik tua yang mengaku buta, menuntut ia menandatangani surat pengalihan saham karena dugaan gagal bayar utang dan gaji karyawan. Wakil Dirut dan Yuli menuduh bahwa uang perusahaan dipakai beli mobil sport dan diberi ke pengemis; mereka bilang sepuluh tahun menahan diri dan menawarkan merawat masa tuanya jika mau menyerahkan saham. Pemilik menolak keras, menyebut mereka pengkhianat dan menegaskan takkan menyerahkan perusahaan. Para investor dan pekerja mengancam akan mengungkap dan menindak jika utang tidak dibayar. Konflik memuncak saat mereka memaksa tindakan—keputusan sang pemilik masih belum diambil.
Di depan kerumunan penagih yang menuntut pembayaran karena perusahaan Jansen sudah bangkrut, para pemilik usaha kecil mendesak agar ia tidak melarikan diri dan segera membayar utang mereka. Mereka memohon, mengingat keluarga dan ibu yang sakit, sambil menuntut uang yang dijanjikan; kericuhan meletus ketika mereka menyalahkan tanda tangan dan menyeret Jansen. Jansen meminta maaf dan berjanji akan membayar, lalu meminta waktu tiga hari untuk menjual asetnya. Titik baliknya: kerumunan harus memutuskan mempercayai janji tiga hari itu atau menuntut tindakan langsung, menunggu konsekuensi yang belum jelas.
Jansen terpojok oleh penagih yang mengancam mengambil alih perusahaannya jika ia tidak membayar; mereka memberi tenggat tiga hari setelah Jansen bersumpah akan 'lompat' kalau tak membayar. Di kantor, penagih mengejek aktingnya, menuntut tanda tangan surat pengalihan dan menegaskan perusahaan jadi milik mereka saat ia jatuh. Rekan-rekannya panik: rekening kosong, rumah dan perabot sudah dijual, serta proyek obat dihentikan sebagai hukuman. Perhitungan menunjukkan kekurangan sekitar 40 miliar dengan sisa satu hari. Telepon tentang rumah sakit menambah urgensi dan keputusan mendesak masih belum diambil.
Episode dibuka dengan panggilan panik tentang rumah sakit; seseorang berjanji segera ke sana. Sofia menyerahkan kartu berisi 4 miliar—tabungan pribadinya—seraya meminta maaf karena telah merepotkan dan ingin membantu. Di lain tempat, seorang lawan mengumpulkan tim media, menyumpahi 'tua bangka' dan berencana membuat isu viral. Laporan TV menuduh Jansen, presiden Grup Jingga, sengaja menunggak gaji; karyawan menderita dan berutang sementara bos hidup mewah. Keluarga dan staf panik; pesan untuk 'kabari warga, Jansen kena masalah' menutup episode, mengantar ancaman eksposur publik yang belum terselesaikan.
Desa Ziltar panik setelah kabar perusahaan Jansen bermasalah; warga berkumpul dan memutuskan tak boleh membiarkannya susah. Pak Kades memberi perintah: telepon anak muda pulang ke desa, kumpulkan semua orang, dan segera bergerak ke Kota Helios. Jordi dan Hamza dipaksa pulang karena paman Jansen terkena masalah, sementara Susi diperintahkan membatalkan konser. Informasi terbaru menyebut Jansen sekarang dirawat di rumah sakit, membuat keputusan warga langsung berubah menjadi aksi penyelamatan. Episode berakhir dengan rombongan berangkat ke kota untuk membantu Jansen, namun penyebab masalah perusahaan dan kondisi pasti Jansen masih belum terungkap.
Para pekerja mendatangi Jansen, sekretaris Qinan, menuntut gaji yang belum dibayar setelah Jansen beralasan tak punya uang. Mereka menghadapkan bukti: kartu bank yang diam-diam diberikan Jansen kepada istrinya, lalu menuduh pasangan itu merencanakan kabur membawa uang. Jansen bersikeras tidak berbohong dan berjanji 'besok pasti kubayar', namun tuduhan dan kemarahan menguat; Salman dan Tua Bangka memakinya dan menuduhnya pantas mati. Saat Jansen mengelak, kelompok itu memberi ultimatum keras: bayar hari ini atau 'kita mati bareng'. Episode berakhir tegang dengan nasib gaji dan keselamatan Jansen belum terjawab.
Para penagih datang mengepung Jansen dan istrinya Sofia menuntut pelunasan; istrinya sujud memohon waktu tapi warga menuduh akting. Tekanan meningkat ketika seseorang menyarankan Jansen menandatangani pengalihan saham untuk menyerahkan paten obat Grup Jingga, yang dikhawatirkan akan menaikkan harga dan menyebabkan korban. Nenek Lampir tegas menolak menyerah dan bersumpah tidak akan membiarkan mereka berhasil, bahkan dengan nyawa. Kerumunan disulut untuk bertindak, diperintahkan menyerang dua orang yang dianggap 'tak tahu malu', dan episode berakhir dengan penduduk siap menyerbu sambil berteriak, "Coba dulu langkahi mayat kami!"