Episode dimulai dengan sebuah keluarga yang mendambakan anak laki‑laki: istri melahirkan seorang putri lalu meninggal karena pendarahan, dan bayi itu dicap pembawa sial hingga hampir dibuang. Seorang pria kemudian merawat bayi lemah yang diberi nama Arkana. Di waktu bersamaan bayi lain yang ditolak Keluarga Pramas diserahkan kepada Keluarga Darko. Sang bidadari yang datang menolak nasibnya dan mengancam Istana Takdir, hingga entitas Takdir menawarkan jalan pintas agar ia beruntung. Takdir menamai bayi itu Wulan Darko sebagai anak kelima; keluarga kesulitan memberi ASI, meninggalkan nasib Wulan tergantung keputusan tentang jalan pintas tersebut.
Saat ibu Keluarga Darko melahirkan anak kembar—putra dan putri—seorang yang hadir menilai wajah si putra sebagai pertanda 'mati muda'. Ibu butuh pemulihan, tapi hanya ada satu telur. Suami menyuruh Yuda memotong ayam betina tua untuk sup; sang istri menolak karena ayam itu sumber penghasilan. Seseorang memohon "Langit suci..." lalu ayam tiba-tiba mengeluarkan telur berbondong-bondong, telur yang tertahan setahun keluar sekaligus. Seorang mengaku itu kekuatan bidadari dan menawarkan rezeki. Saat telur hendak dibagi, seseorang berseru, "Telur itu milikku." Klaim itu memicu perselisihan baru.
Heru dan Kak Yuda membawa telur untuk menukar gula merah agar ibu mereka yang baru melahirkan kembar bisa pulih. Di pasar, Bibi Santi setuju menukar setengah kilo gula merah dengan 20 butir telur, tapi Kak Heru membalik hitungan sehingga mereka malah dianggap berutang 20 tael dengan alasan telur "bukan telur biasa" dan risiko biaya pengobatan jika sakit. Warga heran dan menuduh penipuan; Bibi Santi kemudian menuntut gula merahnya kembali. Perselisihan soal utang 20 tael dan klaim penipuan itu belum terselesaikan.
Di rumah, seorang suami menenangkan istrinya yang kesakitan sementara telur disimpan untuk dijual keesokan hari; suasana mencerminkan kekhawatiran ekonomi. Heru berinisiatif pergi ke kolam belakang untuk menangkap ikan demi pemulihan ibu, meski tetangga mengingatkan kolam itu "sejak 800 tahun lalu nggak ada ikan". Heru mengejek skeptisisme dan percaya ikan akan datang. Paman Caka menerima uang untuk gula merah dan memuji Heru, sementara orang lain mencibir dan memperingatkan soal pinjam beras. Episode berakhir dengan Heru berangkat ke kolam, keputusan berani yang belum terbukti berhasil.
Keluarga Darko menyuruh anak-anak menjual telur untuk melunasi utang lalu segera membawa adik mereka, Leo, ke klinik agar Tabib Ian memberi obat untuk mempertahankan nyawanya. Ayah menegaskan harus menjaga muka dan memberi kesan baik; terungkap Leo bukan anak kandung keluarga dan diduga reinkarnasi naga yang kelak akan kembali ke posisi kekaisaran, sehingga dukungan harus dijaga. Di pasar, Heru dan Wulan tak mampu menjual satu pun; Wulan ingin ikut, Heru frustrasi lalu membagikan telur gratis. Tindakan itu dicela karena mengancam pelunasan utang dan membuat keluarga menghadapi pertemuan krusial tanpa dana.
Di pasar, Heru dan Kak Yuda menarik kerumunan dengan teriakan 'telur gratis' yang ternyata promosi: harga satu telur dua tael, beli tiga dapat satu gratis. Pelanggan berebut membeli, Heru menggunakan sihir untuk memperbanyak telur sehingga keuntungan cepat terkumpul, ia berhasil mengumpulkan 300 tael sehari tetapi kelelahan dan butuh istirahat. Kak Yuda meragukan kemampuan ayam menghasilkan sebanyak itu dan menyarankan mencari peluang usaha lain; mereka memutuskan menemui Leo untuk membahasnya. Episode ditutup saat seseorang menegur mereka karena berjualan di tempat ini, menuntut penjelasan tentang aturan.
Di jalan Kabupaten Rahaja, sekelompok pendatang yang baru datang dihadang oleh pemalak yang menuntut uang—awal 10 tael lalu melonjak menjadi 300 tael—dengan ancaman melarang mereka keluar dari kabupaten. Pemalak merendahkan mereka sebagai "orang miskin" dan memerintahkan serangan; pendatang melawan hingga terjadi bentrokan dan makian. Ketegangan memuncak saat seorang yang mengaku Tuan Bupati datang dan menuntut ketertiban. Episode berakhir pada momen itu, semua menunggu tindakan otoritas; apakah pemalakan dihentikan atau tuntutan tetap dipaksakan masih belum terjawab.
Di pasar, dua pria dituduh memukuli orang dan keluarga korban menuntut ganti rugi 100 tael; mereka menyebut ada ibu 80 tahun dan anak 3 tahun yang bergantung pada korban. Pejabat setempat, tanpa saksi, memerintahkan kedua pria dipenjara sampai ganti rugi dibayar. Seorang wanita memohon pembebasan adiknya dan mengancam petugas, sehingga pengawal diperintahkan menertibkan dengan pukulan. Seseorang berusaha campur tangan menggunakan sihir, tapi mendadak menyadari "aku nggak bisa sihir" dan panik. Episode berakhir dengan tahanan yang ditahan untuk 100 tael dan penolong yang tak berdaya, nasib mereka masih menggantung.
Wulan Salidi dulunya peri kecil dari dunia langit. Ia turun ke bumi untuk mengamati hidup manusia, lalu bereinkarnasi sebagai putri keluarga Bupati Cakso. Ketika ia lahir, ibu kandungnya mengalami pendarahan hebat dan meninggal. Sementara itu, selir sang bupati mengalami keguguran anak laki-laki. Bupati Putra, yang sangat mengidamkan pewaris laki-laki, segera menilai Wulan sebagai pembawa sial. Ia memerintahkan bidan untuk membuang bayi itu. Sang bidan tak tega mengikut perintah; ia memilih menyelamatkan Wulan dan mengirimnya ke Keluarga Tandra. Mereka mengadopsinya. Ironisnya, keberuntungan mulai menyertai Keluarga Tandra sejak kehadiran Wulan. Konflik antara takdir, prasangka, dan rahasia kelahiran menegangkan, sebuah kisah pendek tentang stigma, keselamatan, dan keberuntungan yang tak terduga.
Wulan Salidi dulunya peri kecil dari dunia langit. Ia turun ke bumi untuk mengamati hidup manusia, lalu bereinkarnasi sebagai putri keluarga Bupati Cakso. Ketika ia lahir, ibu kandungnya mengalami pendarahan hebat dan meninggal. Sementara itu, selir sang bupati mengalami keguguran anak laki-laki. Bupati Putra, yang sangat mengidamkan pewaris laki-laki, segera menilai Wulan sebagai pembawa sial. Ia memerintahkan bidan untuk membuang bayi itu. Sang bidan tak tega mengikut perintah; ia memilih menyelamatkan Wulan dan mengirimnya ke Keluarga Tandra. Mereka mengadopsinya. Ironisnya, keberuntungan mulai menyertai Keluarga Tandra sejak kehadiran Wulan. Konflik antara takdir, prasangka, dan rahasia kelahiran menegangkan, sebuah kisah pendek tentang stigma, keselamatan, dan keberuntungan yang tak terduga.