Rapat perusahaan memanas ketika Tina, lulusan luar negeri, dituduh menurunkan harga produk di pasar asing tanpa izin—tindakan yang memaksa grup melakukan penghematan dan mengutamakan pendanaan serta IPO. Tina mengaku berutang budi pada Kak Susi yang membiayainya, lalu menuntut mengambil alih pasar luar negeri untuk membalas jasa. Rekan lain membela Susi, namun pimpinan, Pak Lukas/Bapak, menuduh dan memecat seorang sekretaris yang menentang keputusan itu. Pada akhirnya Susi dipaksa melepas pasar luar negeri dan mengancam mundur, meninggalkan konsekuensi finansial grup yang menggantung sebagai pilihan berikutnya.