Seorang wanita tiba-tiba menyadari ia telah terlahir kembali ke masa delapan tahun lalu, tepat saat keluarganya didatangi lamaran dari Tuan Hadi. Dalam kilas balik, ia mengingat bagaimana di kehidupan sebelumnya, Hadi yang tampak terhormat ternyata menikahinya hanya demi harta dan pengaruh keluarganya, lalu menghancurkan mereka semua. Dengan pengetahuan akan masa depan yang kejam itu, ia bertekad bulat untuk menolak lamaran tersebut. Di akhir episode, ia bertemu dengan seorang pria lain, Ganu, yang menanyakan status hubungannya, membuka kemungkinan baru.
Nona Weni tiba-tiba menanyakan status hubungan Ganu. Ganu yang dikenal sebagai pria urakan itu balik bertanya apakah Weni tertarik padanya. Weni kemudian mengungkap pandangannya yang berbeda, mengagumi bakat dan jasa Ganu di balik reputasi buruknya. Namun, adegan bergeser ke situasi lain di mana seorang wanita, yang menyebut Ganu sebagai suaminya, ditinggalkan sendirian di tengah salju setelah kakinya terkilir, sementara Ganu tampak acuh tak acuh. Wanita itu mempertanyakan janji kasih sayang Ganu di masa lalu, mengungkap kekecewaannya sebagai kekasih masa kecil. Kembali ke percakapan awal, Weni dengan berani menawarkan diri untuk menjadi pasangan Ganu jika ia membatalkan pernikahannya dengan Keluarga Iwan, menantang Ganu dengan sebuah proposal yang tak terduga.
Dalam episode ini, seorang wanita bernama Weni secara terbuka menolak pernikahan yang dijodohkan dengan Hadi, kekasih masa kecilnya. Hal ini mengejutkan orang di sekitar yang mengenalnya sebagai sosok yang lembut dan penurut. Sebelumnya, Hadi telah menerima tanda cinta dan mereka sepakat untuk menikah. Namun, Weni ternyata memiliki ingatan tentang kehidupan sebelumnya di mana ia membantu Hadi mencapai kekuasaan, namun juga mengetahui musuhnya, Ganu. Ia merasa lebih bebas setelah tidak lagi menjadi Weni yang Hadi inginkan. Di hadapan semua orang, dengan tegas ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pernikahan yang rencananya akan dilangsungkan awal bulan depan, menolak janji yang sudah dibuat.
Seorang wanita bernama Weni secara mengejutkan mengumumkan pembatalan pernikahannya dengan Hadi di depan orang tua mereka. Ibunya Wika langsung mempertanyakan alasan keputusan ini, mengingat perjodohan telah dijalin sejak kecil dan seluruh Jawa mengetahuinya. Weni kemudian mengungkapkan bahwa ia mengetahui Hadi telah mengambil dua pelayan sebagai selir. Keluarga Hadi berusaha membela dengan alasan Hadi sedang mabuk dan dimanfaatkan. Namun, Weni yang ternyata memiliki ingatan akan kehidupan sebelumnya di mana ia ditelantarkan, bersikukuh menolak penjelasan mereka dan meminta keluarga calon mertuanya itu untuk pulang. Meski dianggap cemburu berlebihan oleh Hadi, Weni tetap pada pendiriannya untuk membatalkan pertunangan, meninggalkan konflik dan masa depan pernikahan mereka dalam ketidakpastian.
Weni dengan tegas menyatakan ia membatalkan pernikahannya dengan Hadi karena lelaki itu tidak baik, meskipun orang tuanya mengingatkan dampak buruknya bagi seorang wanita. Kakaknya mendukung keputusan Weni. Weni meyakinkan orang tuanya bahwa ia punya rencana dan berjanji tidak akan mencoreng reputasi keluarga. Ia mengungkapkan bahwa keluarga Hadi diam-diam terlibat dengan seorang pangeran yang dilarang, sebuah fakta yang bisa memalukan mereka. Weni bersikeras ingin hidup dengan caranya sendiri dan menangani pembatalan ini. Di tempat lain, seorang pria dikonfrontasi oleh pedagang yang menagih pembayaran untuk banyak barang yang dibeli seorang gadis, menggunakan giok miliknya sebagai jaminan.
Episode ini dibuka dengan seorang wanita yang dikonfrontasi oleh penagih utang yang membawa giok milik Tuan Ganu. Mereka menyampaikan tagihan besar dan memberi tahu bahwa pria pemilik giok itu sendiri ada di tempat. Wanita itu kemudian pergi ke Paviliun Lula, tempat para cendekiawan berkumpul. Di sana, Tuan Hadi, seorang pria berbakat yang akan menikah, menerima pujian. Seorang pria lain mengungkapkan latar belakang kuat Tuan Ganu sebagai putra seorang adipati dan pentingnya giok tersebut. Tuan Ganu sendiri kemudian muncul dan menyindir tentang pernikahan Tuan Hadi, yang dibalas dengan undangan acara. Setelah Tuan Ganu pergi, Tuan Hadi menyinggungnya sebagai orang urakan. Adegan berakhir dengan seorang wanita lain yang secara langsung menantang Tuan Ganu, menanyakan kenapa dia mau menghadiri pesta pernikahan orang lain setelah sebelumnya dirinya sudah menawarkan diri untuk dinikahi.
Seorang wanita bernama Weni diam-diam mendengar tunangannya, Hadi, dan pria lain berbicara di sebuah pertemuan. Beberapa pria mengejek Weni dengan menyebutnya kasar dan tidak berkelas, sementara Hadi diam saja. Saat akhirnya Hadi berbicara, ia hanya menegaskan bahwa mereka seharusnya bertukar ilmu puisi, bukan membicarakan putri orang, dan menekankan bahwa sebagai pria harus menepati janji. Pernyataan Hadi ini membuat Weni merasa suaminya hanya menunjukkan sifat penuh janji tanpa membelanya. Weni kemudian meminta bantuan pria lain, Ganu, dengan tujuan melindungi Hadi agar tidak dirugikan. Ia mengungkapkan rencana liciknya: Ganu akan berpura-pura jatuh cinta dan mengejar Weni secara terang-terangan, sehingga memaksa keluarga Hadi yang terpandang untuk membatalkan pertunangan demi menjaga nama baik. Episode ini berakhir dengan rencana Weni yang terungkap, siap untuk dijalankan.
Seorang wanita meminta bantuan kepada Tuan Ganu, anggota Keluarga Hava yang dikenal buruk, meski ia sadar hal itu bisa menambah skandal asmaranya. Ganu yang mengaku menyukai wanita cantik setuju membantu namun mengingatkannya agar tidak menyesal. Wanita itu kemudian memberikan dua hadiah tanda terima kasih: informasi bahwa Paviliun Lula yang dikelola diam-diam oleh Keluarga Iwan adalah tempat berkumpulnya para cendekiawan, serta sebuah pesan tertulis. Pesan itu mengungkap konflik politik di mana Putra Mahkota sakit keras dan Lima Pemberontak berbahaya bagi kerajaan, dengan Keluarga Iwan berpihak pada Pangeran Sozo, menjadikan Ganu yang merupakan cucu luar Kaisar sebagai lawan mereka. Di Paviliun Lula, Tuan Hadi sedang menulis puisi yang dipuji banyak orang. Wanita itu kemudian berpamitan kepada Ganu, menyebut hadiah kedua telah diberikan, dan meninggalkannya dengan situasi politik yang memanas di antara mereka.
Di sebuah pertemuan, seorang pria bernama Hadi membacakan puisi yang mendapat pujian. Seorang wanita yang hadir, tampaknya bernama Weni, langsung menyadari bahwa puisi itu identik dengan karyanya sendiri, sehingga mempertanyakan bakat Hadi. Di tempat lain, seorang pria bernama Ganu tampak bingung dengan kehadiran dan perilaku Weni. Weni kemudian mengungkapkan kepada Ganu bahwa di kehidupan sebelumnya, Ganu disiksa oleh Hadi demi menyelamatkannya, dan kini ia bertekad melindungi Ganu. Sementara itu, terungkap bahwa Hadi adalah seorang penipu yang memaksa orang lain menulis puisinya dan mengurung penulis tersebut. Weni memberi instruksi kepada seorang pelayan untuk mengumpulkan semua karya Hadi yang beredar. Episode berakhir dengan Ganu menghadap kepada seorang yang lebih tinggi kedudukannya dan secara mengejutkan meminta anugerah pernikahan antara dirinya dengan Weni.
Seorang wanita dari Keluarga Hava berdebat dengan saudaranya karena ia menolak pernikahan yang diatur keluarga. Ia bahkan menolak menjadi penerus keluarga. Saudaranya yang marah menuduhnya sudah merusak pertunangan Putri Marquis Arwu dengan putra Keluarga Iwan karena ingin 'menolong' sang putri. Wanita itu mengaku sudah memberi giok sebagai tanda dan berharap dirinya dituntut. Sementara itu, di tempat lain, Nona Weni (Putri Marquis Arwu) mendapat kiriman buah dari Kaisar untuk Tuan Ganu dan terkejut mendengar rumor bahwa Ganu dari Keluarga Hava meminta Kaisar menikahkan mereka. Rumor itu dengan cepat menyebar di masyarakat, mempertanyakan mengapa seorang pria terhormat seperti Ganu mau menikahi Weni yang digambarkan kurang baik.