Ketika orang-orang Anka mengepung dan rumah jadi tak aman, ketua memerintahkan warga bertahan. Suara bahwa 'dia datang' memicu harap; ketua menjelaskan anak kecil itu adalah gadis suci syaman dengan lonceng perak dan ilmu syaman yang berkelana di dunia manusia. Seorang anak kemudian berseru "matahari terbit. Kita menang", warga pun merayakan kemenangan. Namun beberapa penduduk mengejek penampilan putri dari desa sebagai 'anak desa' norak. Perayaan dan hinaan ini meninggalkan ketegangan: kedatangannya mengubah keadaan, tetapi sikap sinis warga terhadap sang putri belum terselesaikan.
Nona Eva, gadis 10 tahun yang dijemput dari desa, tiba di kediaman Keluarga Okta dan langsung jadi sumber kontroversi. Beberapa anggota menghina kurangnya pendidikannya dan menuduh kaitan dengan Anka, sementara kakaknya menjanjikan guru dan ayah menetapkan aturan: Eva tidak boleh keluar rumah sampai belajar. Ia ketakutan setelah mengatakan ia melihat "orang-orang itu semuanya mati" dan terganggu oleh topeng yang dilarang disentuh. Sebagian keluarga menegaskan darah Okta mengalir di tubuhnya, tetapi permusuhan dan kecurigaan tetap kuat, meninggalkan tanda tanya besar tentang asal-usul dan ancaman topeng.
Di episode ini, Eva kembali ke keluarga dan menjalani upacara di hadapan Kakek: ia memberi jimat keselamatan dan Kakek menganugerahkan 10% saham Keluarga Okta kepadanya. Anggota keluarga, termasuk pewaris yang hanya punya 15% dan Olla yang bukan keturunan, terlihat cemburu dan marah. Ayah dan paman merencanakan merebut kembali saham dan mengusir Eva. Saat ketegangan memuncak, Eva mengejutkan semua orang dengan meminta ganti wali: dia menunjuk Luki Okta sebagai wali barunya. Permintaan ini mengguncang rencana keluarga dan membuka konflik baru tentang kontrol saham yang belum terselesaikan.
Ayah secara resmi mengumumkan bahwa Luki, paman yang santai, akan menjadi wali dan ayah bagi Eva, memicu perdebatan keluarga. Ayah khawatir soal saham: Eva sudah mendapat 10% saham, sehingga jika ia menjadi anak Luki posisi pewaris praktis berpindah. Luki menolak karena ingin hidup bebas dan hanya bermain biliar, tapi keluarga mendesak dan mengancam membuang stik biliar serta motornya jika ia tidak merawat Eva. Terpaksa Luki setuju dan membawa Eva pulang. Seorang anggota keluarga bertekad mengubah Luki jadi orang hebat untuk menyingkirkan Rio, meninggalkan nasib pewarisan dan perubahan Luki yang belum jelas.
Seorang anak kecil datang ke depan rumah mengaku sebagai putri Tuan Luki, diduga diantar oleh kakek untuk mengecoh. Ibu menolak ikut campur urusan Keluarga Kak Rio, sementara beberapa orang menyangsikan maksud anak itu karena disebut anak Kak Rio. Mereka khawatir anak dikirim untuk mengawasi Tuan Luki dan membatasi kebebasannya. Seseorang menjamin bisa mengusirnya dan diperintahkan untuk melakukannya. Tuan Luki sedang di toilet, anak menangis di ambang pintu, dan keputusan untuk mengusirnya meninggalkan nasib anak itu belum terselesaikan.
Di villa keluarga Okta, seorang pemuda tiba-tiba masuk dan menegaskan 'sekarang aku anakmu', memaksa hadir untuk menerima keberadaannya. Nona Eva segera memerintah staf memberi mereka sepuluh menit untuk 'buang semua barang pamanku ini' dan mengancam akan memecat jika tak patuh. Staf bingung tapi langsung membereskan barang, sambil membahas nasib ayam aduan dan mencicipi sup ayam dari halaman belakang. Seorang pria yang dipanggil 'paman' tampak terkejut saat dipanggil, sementara Eva dingin dan tegas. Ketegangan meningkat saat keputusan mengusir pamannya berjalan, meninggalkan nasib pria itu dan klaim anak yang belum terjawab.
Seorang pria membuka episode dengan mengatakan ia membeli ayam aduan seharga 1,6 miliar, memicu cekcok soal mau dimasak. Percakapan beralih jadi tawar-menawar aturan: pria itu mendeklarasikan tiga larangan jika seseorang 'mau jadi anakku'—tak boleh cengeng, berisik, atau menyentuh barang kesayangan—salah satu pihak membalas dengan tiga syaratnya sendiri (pulang sebelum tengah malam, larangan merokok/alkohol, harus bisa dihubungi). Ketegangan memuncak saat yang menolak diatur ditegur dengan, "Orangnya ada di depan Ayah", yang mengubah posisi. Nona Eva lalu mengejar Tuan Luki, tapi berhenti ketika lonceng terdengar; ia panik dan berteriak 'hantu', meninggalkan suara itu dan reaksi Ayah belum terjawab.
Eva dituduh bersekongkol dengan pengawal dan dipaksa turun oleh bocah bernama Luki, yang memerintahnya menguasai semua informasi bisnis Grup Okta dalam sebulan. Eva mengeluh hidup malamnya terganggu sementara Luki menegaskan kebutuhan untuk jadi kuat demi melindungi orang. Saat jam menunjukkan tengah malam, Eva menyuruh pembantu Bik Siti menelpon ayah supaya pulang, namun staf takut mencampuri urusan Tuan Luki. Panggilan tersambung ke Luki yang menolak karena sedang main biliar dan masih ada tiga pertandingan; ia mengancam akan menyusul sendiri jika ayah tak pulang, meninggalkan ketidakpastian.
Episode dibuka dengan desas-desus bahwa Nona Eva membawa stik biliar untuk memukul Tuan Luki, membuat Tuan Danu dan orang-orang rumah bergosip dan kaget. Luki mengeluh anak baru itu terlalu menempel dan sudah mulai mengatur-atur dia; ia bilang telah memberi pelajaran sehingga bocah kini hormat padanya. Tengah malam Eva datang sendiri, memperkenalkan diri sebagai anak resmi Luki dan membagikan hadiah kepada 'paman-paman'. Ia menunjukkan kepintaran menangkap bola, lalu memperingatkan bahwa jika ayahnya belum pulang lewat tengah malam, nasib mereka "bakal kayak bola ini" — ancaman langsung yang belum terjawab.
Kak Luki diperintahkan segera membawa anaknya pulang setelah seseorang mengancam nasib mereka kalau ayah pulang lewat jam 12. Untuk memaksa keputusan, mereka mengajukan taruhan: pertarungan biliar sebagai penentu nasib si bocah. Taruhan dinaikkan—jika bocah kalah, dia akan dikurung di ruang gelap sehari semalam. Awalnya bocah tak bisa bermain, tapi kemudian keadaan berubah dan sang ayah memulai giliran pertama. Seorang pihak mengingatkan bahwa ayah lawan mendapat penghargaan biliar tahun lalu, menegaskan lawan kuat. Mereka menyetujui taruhan; pertandingan segera dimulai dan nasib anak tetap belum pasti.