Episode dibuka dengan suara mengolok: 'Wanita lemah mana bisa kalahkan aku?' dan serangkaian teriakan pada seorang bernama Jaini—pengucap mengancam akan merebut suami dan aset serta membuatnya sengsara, bahkan melarang bertemu 'di kehidupan baru.' Adegan berpindah ke Jessi yang terbangun bingung; Joan membangunkannya dan memberitahu tanggal: 1 April 1915. Jessi, menyadari usianya kembali menjadi 18, menegaskan, 'Aku hidup kembali.' Telegram menyebut Tuan Zulfan pulang malam itu, namun saat kedatangan diumumkan, Joan mengatakan Tuan tidak sendiri. Episode berakhir saat Jessi melihat Tuan yang tiba bersama orang asing, menciptakan ketegangan yang belum terjawab.
Melia tiba di rumah sebagai istri yang menikah kemari dan disebut setara dengan Jessi, lalu keluarga mendesak keduanya untuk rukun. Seorang anggota meminta Jessi berbagi mas kawin untuk Melia dan dirinya, menuduh Jessi egois ketika menolak. Ada permohonan agar Jaini diselamatkan karena disebut bukan anak kandung, menambah ketegangan. Seorang wanita bersumpah tak akan lagi membiarkan dirinya disakiti seperti di kehidupan sebelumnya. Zulfan pulang setelah tiga tahun dan meminta restu menikahi Melia yang menyelamatkannya; ayah menegaskan Jessi tetap nyonya utama, sementara penerimaan Melia sebagai istri muda masih menggantung.
Di tengah pertemuan keluarga yang menyiapkan pernikahan Zulfan saat ia pergi, Jessi diminta mengurus urusan Keluarga Jasper dan meyakinkan nenek. Keluarga memuji Melia sebagai pasangan yang lebih cocok dan menyetujui pernikahan itu. Jessi, curiga pada niat tersembunyi anggota keluarga, menolak jadi istri muda; dia mengajukan syarat keras dan akhirnya menyatakan 'aku mau cerai'. Seruan dan protes muncul, Joan dan pembantu memperingatkan akibat pernyataannya dan menyinggung pengorbanannya selama tiga tahun. Keputusan Jessi mengguncang rencana pernikahan, konsekuensi dan penerimaan keluarga masih belum terselesaikan.
Zulfan menuntut cerai dari Jessi agar bisa menikahi Melia, tapi keluarga menolak keras karena Jessi adalah putri sulung keluarga Goyard yang kaya dan sumber rezeki mereka. Di bawah tekanan itu, ibunya memberi susu dan menyuruh Jessi tidur, sementara Jessi merencanakan keluar dengan alasan mandi untuk menemui seorang teman lama. Di luar ia bertemu Sundiro Simon, jenderal tertinggi, dan menanyakan mengapa dulu ia 'mengurus mayatnya'. Jessi memohon bantuan jenderal lagi; respons Simon menjadi titik balik yang menentukan nasibnya segera.
Episode dimulai ketika seorang tamu tidak dapat menemui Pak Sundiro karena sang jenderal sedang menerima tamu penting di sebuah acara dengan undangan terhormat. Si Peoni belum tiba, sehingga seorang wanita menawarkan diri menggantikan penampilan tari di hadapan tamu. Di sela acara, pesan dari istana: Presiden menyetujui penyewaan Kota Jimbar dan hak pakai rel kereta; Pak Sundiro diperintahkan untuk menarik pasukan dan ia setuju. Nona Jessi menghadapi seseorang yang terluka; seorang pria memperingatkan, 'Kalau nggak mau aku sentuh, nanti mati jangan salahkan aku.' Episode berakhir dengan keputusan penarikan dan nasib korban terluka belum jelas.
Warga mencurigai Pak Sundiro bersekutu dengan orang Jepang—menguasai sewa Kota Jambir dan hak pakai rel—sehingga dituding mengkhianati negara dan menutup ruang keadilan bagi rakyat. Malamnya, Sundiro dibawa ke rumah hiburan Begata; ia memaksa wanita itu tetap, memuji kecantikannya dan menggoda sambil didorong oleh kekuasaan dan perintah Presiden agar melayani tamu tertentu. Pak Lendra datang menegur dan mendapat peringatan untuk tidak salah paham; kemudian seseorang tiba-tiba menyela, 'Dia adalah pacar aku.' Pernyataan itu memecah suasana, meninggalkan konflik personal dan kekuasaan yang belum terselesaikan.
Bu Jessi mendatangi Pak Sundiro membawa uang dan menuntut keadilan karena Zulfan dan Melia, anak buahnya, berbuat mesum tanpa ikatan dan menindasnya. Ia menuduh Pak Sundiro bersekongkol dengan orang Jepan dan tak lagi mampu menegakkan hukum, sambil mengeluh bahwa perkenalan lamanya diabaikan. Pak Sundiro membantah keras, menantang 'Apa yang aku perbuat padamu?' dan melontarkan komentar kasar bahwa jika ia berniat, Bu Jessi sudah tak berpakaian sekarang. Ketegangan memuncak ketika Sundiro menyuruhnya diam; pengaduan itu tertutup sementara, masalah dan tuduhan kolusi masih menggantung.
Episode dimulai dengan Pak Sundiro menyusun adegan palsu: menyuruh seseorang berpura-pura jadi Lendra yang mabuk lalu jatuh ke sungai, dan merencanakan mencincang mayat agar bisa mengelabui Presiden dengan klaim kecelakaan baling-baling kapal. Di sela rencana itu, istri Zulfan—putri keluarga Goyard—datang meminta surat cerai karena takut asetnya disikat jika mengurus di pengadilan; ia mengaku lemah dan tak punya koneksi. Ia menawarkan uang untuk dana perang daripada diberikan pada "mereka" dan mendesak Sundiro membantu. Ketegangan berbalik saat ia mengejutkan Sundiro: "Gimana kalau aku bilang aku mau kau?"
Di kehidupan sebelumnya Jessi menikah ke Keluarga Jasper dan disiksa sampai mati. Kini hidup kembali, ia bersumpah lepas dari pernikahan penuh luka. Demi memaksa cerai, Jessi meminta bantuan Sundiro. Dalam kebersamaan yang canggung, ia mulai menggali rahasia Sundiro, kesedihan dalam diam dan kesepian yang sama-sama mempermainkannya. Keteguhan Jessi menghadapi trauma bertabrakan dengan kelembutan tak terduga Sundiro. Dari masa lalu hingga kini, hanya kau satu-satunya.
Di kehidupan sebelumnya Jessi menikah ke Keluarga Jasper dan disiksa sampai mati. Kini hidup kembali, ia bersumpah lepas dari pernikahan penuh luka. Demi memaksa cerai, Jessi meminta bantuan Sundiro. Dalam kebersamaan yang canggung, ia mulai menggali rahasia Sundiro, kesedihan dalam diam dan kesepian yang sama-sama mempermainkannya. Keteguhan Jessi menghadapi trauma bertabrakan dengan kelembutan tak terduga Sundiro. Dari masa lalu hingga kini, hanya kau satu-satunya.