Episode dibuka dengan seorang Nona memerintahkan agar seorang ibu dan putrinya disiksa: sang ibu dipaksa melepas pakaian dan dimasukkan ke kandang anjing, lalu digantung di bawah pohon sakura untuk menutup aib sebelum pemilihan istana. Rani menyaksikan ibunya dibawa dan berulang kali memohon. Setelah kejadian Rani tersadar, dicegah bertindak dan diberi obat. Ia berjanji membunuh Anya yang sudah menjadi permaisuri untuk balas dendam, tapi diberi tahu itu bunuh diri. Seorang guru kemudian menawarkan untuk mengajarkannya cara memikat laki‑laki dan masuk istana agar suatu hari dapat membalas; Rani setuju menjadi murid.
Rani dipersiapkan oleh gurunya untuk membuat Kaisar jatuh hati agar ia bisa melahirkan keturunan kerajaan. Guru menanam teratai keberuntungan sebagai pemicu dan memberi serangkaian ujian: merasakan letak kacang di bawah sepuluh lapis selimut, menunjukkan kelenturan dan gerak memikat, menjepit telur dengan kaki, serta melipat kain sutra jadi kipas. Rani merasa tidak nyaman namun lulus ujian fisik dan teknik. Ujian ketiga dimulai untuk menguji mentalnya—Guru akan menggoda; Guru memperingatkan jika Rani tak bisa menahan godaan, ia tak perlu lagi mencoba mengoda Kaisar.
Seorang guru melarang muridnya masuk istana setelah menyatakan ia nggak lulus ujian. Murid itu protes, mengaku sudah lulus dan mengakui ia pura-pura terluka sebelumnya agar guru buru-buru menolong. Guru mengecam kelembutan yang tak cocok di istana penuh intrik dan menegaskan larangan. Murid membalas bahwa ia bertahan sepuluh tahun demi balas dendam dan tak bisa menunggu lagi: besok ada pemilihan selir baru, ia harus berhasil. Episode berakhir dengan para gadis memasuki istana dan ketegangan antara larangan guru dan tekad murid mengambang menjelang pemilihan.
Di sebuah pemilihan kecantikan dan keterampilan, peserta meremehkan calon baru yang tampak sederhana, sementara banyak orang menganggap Kak Diya, putri bangsawan dan adik sepupu Permaisuri, pasti menang. Gadis misterius itu dipuji karena cantik namun dicemooh sebagai berasal dari keluarga miskin; ada ejekan "tong kosong". Saat kompetisi berlangsung, Rani Bara mengejutkan semua orang dengan merebut juara pertama kaligrafi, bordir, dan menari. Panitia mengumpulkan lukisan peserta untuk diserahkan pada Kaisar; hasil akhir belum diumumkan, menempatkan persaingan Diya versus Rani Bara dalam penantian penilaian Kaisar.
Di upacara pemilihan istana, Kaisar dan Permaisuri hadir saat Kasim Amur mengumumkan tiga besar: Viya Mari (putri bupati) peringkat tiga, Diya Mala (putri Wakil Menteri Hukum) peringkat dua, dan Sita Devi (putri wakil bupati Tamra) juara pertama yang akan ditempatkan di Istana Aruna. Hasil itu mengejutkan banyak orang. Setelah acara, Diya menuduh seorang perempuan sebagai penyebab kegagalannya; perempuan itu mengaku memberi uang pada pelukis agar lukisan Diya dibuat jelek sehingga Kaisar membenci. Perempuan itu memperingatkan Diya untuk tidak sok hebat di depannya, ancaman yang menutup episode dan meninggalkan konflik langsung yang belum terselesaikan.
Ari Shita, seorang dayang, menemukan Nyonya terguncang dan mengungkap persaingan: muncul tuduhan Tuan menerima uang dari Selir Diya sehingga Rani dilukis buruk. Ruki memohon ampun dan janji menebus lewat lukisan, namun Nyonya malah memerintah, "Lukislah aku lebih jelek lagi," mengungkap taktiknya membiarkan saingan menang. Kabar kemudian datang bahwa Selir Sita, juara pertama, celaka. Permaisuri dan para selir membahas langkah hati-hati untuk mengamankan posisi, sementara seorang selir bertekad membuat Kaisar terikat padanya dalam mimpi malam ini—nasib pemilihan dan kecelakaan tetap menggantung.
Di malam ketika seorang nyonya berharap mendapat perhatian Kaisar, dia menolak mendatangi istana dan menuntut supaya Kaisar yang datang padanya. Ari kebingungan sementara jam menunjukkan hampir jam sepuluh dan pertemuan belum terjadi. Terungkap bahwa Istana Sakura dinamai dari hutan sakura yang ditanam ibu kandung Kaisar, dan tiap tanggal lima belas Kaisar datang sendiri ke hutan—kesempatan terbaik agar dia dilihat. Di taman, dua wanita berpura-pura akrab, memuji permainan seruling dan bercanda tentang nama; penantian untuk perhatian Kaisar tetap menggantung sebagai ketegangan yang belum terselesaikan.
Seorang nyonya sengaja menolak memberi nama agar Kaisar terus penasaran dan selalu teringat padanya. Ketika Kaisar terpesona oleh permainan alat musik tiup, titah memerintahkan semua dayang dan ibu dayang antre di Aula Sukma untuk meniup, membuat istana kacau. Kakak dan adik di istana khawatir kehilangan kedekatan dengan Kaisar; mereka berharap sebuah lukisan akan membuat Selir Rani tampak jelek. Nyonya itu mengatur agar pesan diserahkan dan berjanji bertemu malam ini di pojok tenggara taman istana untuk memancing perhatian Kaisar. Rencana itu terancam ketika seseorang tiba-tiba berteriak, "Kalian semua, berhenti!"
Petugas istana menyerbu saat seorang wanita yang dituduh merayu Kaisar tertangkap sedang bersembunyi. Ruki diperintahkan menutup gerbang dan mencegah wanita itu keluar, sementara Dik dianggap memberi kesempatan padanya. Wanita itu berterima kasih kepada Dik dan berencana menghadap Kaisar di taman malam itu untuk mendapatkan kasih sayang dan membalas budi kepada adiknya. Namun Nyonya mengungkapkan taktik tandingan: Kaisar sengaja diusir dari taman untuk menipunya, dan malam ini Kaisar hanya akan datang ke Istana Sakura. Ancaman pengungkapan dan rencana baru meninggalkan nasib wanita itu belum jelas.
Di episode ini, istana kacau karena alat musik tiup hancur dan seorang wanita yang bisa meniup lagu itu hilang; para pelayan panik karena tak bisa menghadirkannya untuk Kaisar. Mereka memeriksa seluruh istana namun gagal. Kaisar menyesali perilakunya, menyebut obsesi itu tak pantas dan memerintahkan agar pencarian dihentikan. Seorang pelayan lalu mengenali lagu yang sama, mendengar suara seperti dari dekat, lalu menyimpulkan asalnya dari Istana Sakura. Tim menuju lokasi namun menemukan pintu terkunci, meninggalkan sumber lagu tak terjangkau dan ketegangan yang belum terselesaikan.