Episode ini dimulai dengan Nisa menghadapi ancaman agar segera menjauh atau menghadapi kematian akibat upayanya untuk merebut saham perusahaan. Setelah kematian ayah mereka, suasana pemakaman tidak ramai karena permintaan om-om yang bermusuhan melarang kerabat melayat. Nisa menyadari kesempatan untuk mengontrol perusahaan terbuka karena kepemimpinan Alfan yang belum kuat dan Sintia yang masih muda. Dengan risiko perlawanan direktur yang loyal pada pesaing, Nisa memutuskan menunda pemakaman agar mengadakan rapat direksi dan mengancam memberi saham ke karyawan jika tidak didukung. Ketegangan meningkat saat Nisa dikonfrontasi oleh pihak yang menentangnya, memicu konflik yang belum usai.