Perseteruan antara Nisa dan kakaknya, Alfan, memuncak saat Alfan menuntut saham keluarga sebagai syarat agar Nisa dan ayah mereka bisa bebas beraktivitas kembali. Alfan meremehkan Nisa dengan menyebutnya beban keluarga, memicu emosi dan tantangan dari Nisa untuk bertanding menggunakan kemampuan apa pun. Mereka sepakat bermain dadu, permainan yang dikuasai Alfan. Nisa kalah dalam permainan setelah Alfan mendapatkan angka tertinggi, sehingga dia harus menurut dan menyerahkan saham keluarga. Konflik ini berakhir dengan ketegangan yang belum terselesaikan terkait masa depan dan kepemilikan saham keluarga.