Fandi menghubungi kakaknya, Rudi, untuk meminta bantuan menghadapi lawan di rapat dewan Grup Karman. Sementara itu, Nisa berani mengajukan diri sebagai presiden direktur, yang membuat pihak lain marah dan mengancamnya. Fandi mempersiapkan serbuan dengan 3.000 prajurit bayaran dari Klub Maut, kelompok pembunuh berdarah dingin, untuk menggulingkan Nisa. Meski mendapat peringatan agar segera melarikan diri, Nisa tetap bersikeras menghadapi ancaman itu. Ketegangan memuncak saat Nisa menolak mundur dan Fandi menegaskan tidak ada yang boleh meninggalkan tempat tanpa izinnya, menandai bentrokan besar yang akan terjadi.