Episode dimulai dengan pujian warga terhadap Bu Bena—dokter muda yang mengekstrak unsur mikro dari rumput ekor sapi, merencanakan mendirikan rumah sakit dan bahkan menerima Nobel Kedokteran. Tiba-tiba kabar bahwa Bu Bena tewas disambar petir menyebar; komunitas menghakimi dia karena keguguran, perceraian dari Dito, dan beban ekonomi terkait Nino. Bena terbangun bingung setelah kejadian itu, merasakan sakit dan mendengar tentang keguguran serta cerainya; seorang kakak menawarkan bantuan. Akhirnya ia menyadari ia berada di tahun 1980—ia lintas waktu dan kini harus menghadapi kehilangan, perceraian, serta fitnah yang belum terselesaikan.
Bena terbangun setelah lintas waktu namun baru saja keguguran; keluarga pihak suami mengusirnya, menuduhnya merepotkan karena memberi uang obat Nenek ke Dito. Perdebatan soal hadiah dan uang dari Paman dan Bibi untuk biaya kuliah Dito memanas; muncul rencana suami menikah dengan Weni karena Pak Rama memberi modal 10 juta untuk klinik dan menuntut perceraian. Bena yang semula hamil enam bulan terserang nyeri lalu keguguran. Pemilik tubuh yang menempati Bena marah, mengecam Dito dan berjanji akan membereskan masalah itu; penghutang berjanji kepada Kak Lea mengembalikan utang dua kali lipat dalam sebulan, menambah tekanan belum teratasi.
Di sebuah rumah, keluarga berseteru setelah Bena mengalami keguguran yang dituding akibat Dito; ada juga pertengkaran soal sepeda dan tabungan nenek yang dipakai untuk bantu Bena. Nenek membela Bena dan menawarkan uang tabungannya, tapi ibu ingin mengusir Bena. Di tengah itu Nino, keponakan, batuk sampai berdarah; ibunya menolak berobat karena takut menghabiskan uang. Kak Lea diminta memeriksa meski dihina tak sekolah. Lea menemukan anak-anak desa mulai batuk juga dan mengatakan dokter kota belum tentu bisa. Ia berjanji akan mengobati Nino; nasibnya dan tuntutan maaf masih bergantung pada hasil pengobatan.
Episode ini dibuka mendadak dengan tawaran: jika Nino disembuhkan, seseorang akan mengizinkan Bena tinggal dan memasakkan ayam. Nino, yang batuk sampai tak bisa sekolah, diperiksa; Bena menemukan satu set jarum akupunktur yang ditinggalkan Dito dan, meski Rio khawatir karena Nino adalah putranya, Bena melakukan akupunktur. Suara Nino kembali dan batuk mereda. Bena meresepkan obat herbal, menjamin sembuh kurang dari tiga hari, dan menyuruh segera membeli obat di kota, meninggalkan ketidakpastian apakah janji penyembuhan itu akan terpenuhi.
Di episode ini keluarga panik setelah menerima daftar obat seharga 20 ribu, sementara mereka hanya bergantung pada gaji Rio; ibu menuduh satu anggota keluarga boros karena perawatan keguguran yang menguras uang. Seorang ahli pengobatan tradisional menawarkan menangani obat dan menanam ramuan sendiri. Saat menanyakan lokasi, terungkap ada bukit berjemur satu kilometer dari desa, namun lahan itu diklaim Grup Luvia dan dijaga kepala desa. Ahli itu menemukan tanaman rumput ekor sapi yang bisa mengobati Nino, tetapi seseorang mengejutinya — konfrontasi menutup episode.
Bena tertangkap sedang memotong tanaman di bukit; Kepala Desa menuduhnya mencuri bibit dan mencegahnya. Bena membela diri bahwa yang diambil hanya rumput liar dan mengingat ancamannya sebelumnya—siapa yang menghalangi akan dibakar rumahnya—yang membuat warga khawatir. Warga menyebut "dia" pernah membuat desa kacau. Kepala Desa menyebutkan Pak Jino dari Grup Luvia akan menggarap tanah itu, sehingga warga berharap keuntungan. Kepala Desa sampai berlutut memohon agar Bena tidak merusak lagi. Bena mengaku akan bertobat dan pulang, tapi janji itu meninggalkan keraguan tentang bagaimana pembangunan dan konflik akan berlanjut.
Bena dan Kak Rio memungut rumput ekor sapi di bukit, rumput yang diyakini bisa menyembuhkan wabah batuk yang membuat klinik penuh dan sekolah libur. Di rumah, suasana tegang saat Bena minta maaf dan berjanji tak mengganggu, sementara Dito dan orang lain mendesak untuk makan cepat. Kak Ari terpeleset dan mengeluh 'kakiku', dicela sebagai tak berguna; Bena diminta mengantar ke klinik tetapi Kak Ari menolak dan menyuruh pergi sendiri. Setelah dikatakan kakinya bisa cacat karena terlambat diobati, Bena berjanji memeriksa setelah makan, meninggalkan keraguan apakah rumput itu manjur dan kaki Kak Ari bisa diselamatkan.
Di episode ini, keluarga bertengkar soal makanan dan pengobatan Nino: Nino masih sakit dan hanya ada sebutir telur yang dipastikan milik Nino, sementara Bena — yang baru keguguran — justru naik gunung cari obat untuknya. Argumen memanas; ada tudingan terhadap kakak ipar, Kak Rio ditegur agar tidak berkata begitu kepada Kak Lea, dan Bena menolak makan, memberi telur ke Bibi. Seorang anggota berjanji dalam sebulan keluarga akan bisa makan daging. Kak Ari mendesak melihat kaki Bena; Bena enggan, mengklaim ilmu medis masa kini kalah dan berkata "aku itu hebat" — Ari bersikeras memeriksa, hasilnya belum terungkap.
Kak Ari menghadapi tudingan soal luka yang tak diobati karena ia mundur setelah kehilangan penghasilan; ia menyebut keluarga pemilik tubuh miskin tak mampu beli obat. Seorang bibi membawa Nino, yang sembuh setelah minum 'air rumput liar', lalu menawarkan Nino menjadi 'ambasador' dengan janji daging untuk mempromosikan ramuan itu. Bibi menggelar demonstrasi, mengklaim khasiat tanpa suntik dalam 30 menit, tapi warga curiga, menyebutnya Bena si pembuat onar, meragukan isi tong besar dan menuduhnya menipu. Demonstrasi gagal; penolakan warga meninggalkan nasib ramuan dan reputasinya belum terselesaikan.
Di kerumunan warga, perdebatan meletus setelah Nino tiba-tiba sembuh: beberapa memuji ramuan batuk buatan Bibi, sementara yang skeptis menuduh penipuan dan menyinggung Dokter Dito, mantan suami salah satu warga yang punya klinik dan mungkin yang sebenarnya menyembuhkan Nino. Ketegangan meningkat saat masa lalu Bena disebut—ada tuduhan pencurian ayam untuk biaya kuliah dan kecenderungan memihak Dito—hingga muncul ajakan untuk 'hancurkan saja' agar tak ada penipuan lagi. Episode ditutup dengan anak yang membela ibunya, "Jangan ganggu ibuku," meninggalkan ancaman terhadap Bibi belum terselesaikan.