Di tengah penerbangan, seorang awak memperingatkan bahwa lepasnya penutup kemudi guling bisa memicu efek berantai: turbin bergeser dan konsumsi bahan bakar melonjak. Arvin — yang punya pengalaman dua puluh tahun — mendesak pendaratan darurat ke bandara terdekat, Kabut Raya, sepuluh menit lagi sebelum pesawat masuk area pegunungan. Kru lain menolak, menuduhnya ingin menjebak Kapten Farel dan mengancam pendaratan akan membuat Farel dipecat. Perdebatan berubah jadi dorong-dorongan; Arvin ditahan agar tak masuk kokpit. Saat ketegangan memuncak, seorang awak melapor: sayap pesawat terbakar, memaksa keputusan kritis segera.